Selamat datang di website resmi Sego Pecel Cakdoell, Kamu bisa pesan makanan di sini atau sekedar berselancar untuk menukar wawasan. Gratis pesan antar untuk area Sembung, Kekeran, Pekilen, Binong, Sayan, Denkayu, Blayu dan sekitarnya. Selamat menikmati!

Sabtu, 02 Mei 2020

Covid-19: Satu Persatu Tetanggaku Pergi

Akhir tahun lalu aku memutuskan pindah ke sebuah kost di Jl. Buana Raya, Denpasar, untuk mendekati warung yang baru aku rintis. Di kost itu ada dua lantai dengan total 12 kamar. Sebelum aku masuk, ada dua kamar kosong, tapi tak sampai 1 bulan akhirnya penuh. Meskipun ramai, komunikasi kita antar penghuni kost tidak akrab. Sudah pasti karena kesibukan masing-masing. Aku saja begitu bangun langsung menuju warung jam 9 pagi hingga jam 12 malam. Ada sih istirahat siang tapi jarang ketemu dengan penghuni kost lainnya. Beberapa hanya menyapa ringan pas tak sengaja papasan. Begitu dingin komunikasi kita di sana tapi ya memang begitulah ya kita juga tidak saling kenal kan sebelumnya haha

Sampai pada suatu hari Covid-19 datang. Satu persatu penghuni kost menghilang. Ada yang sempat aku sapa saat mau berangkat ke warungku, dia terlihat sibuk mengangkut barang-barang ke mobil
"Pindahan nih?" Tanyaku basa-basi
"Iya bang, dirumahkan 24 hari dari tempat kerja, bisa diperpanjang sampai batas waktu tak menentu" jawabanya
"Dari pada di sini tak menentu lebih baik aku pulang kan ya biar dekat dengan keluarga" sambungnya sambil terus menata barang-barang yang mulai penuh di mobil. Dia dari Gianyar, sebelumnya kerja di sebuah bar di Seminyak katanya.

Saat pertama kali ada yang pindah, aku masih merasa biasa saja, sampai tiba-tiba malam ini aku resah. Aku baru sadar kalau sekarang tinggal aku seorang di lantai bawah, dan dua orang di lantai atas. Pada ke mana mereka? Kok gak pamitan? Yah, konyol sih aku sempat berpikir seperti itu, untung saja aku langsung sadar mana mungkin mereka pamitan wong kenal aja enggak. Kita bukan siapa-siapa kan haha, gila! Tapi entahlah kenapa aku seperti kehilangan teman dekat, rasanya seperti ditinggal tetangga dekat yang akrab. Sampai aku menulis ini, baru saja mengerti kenapa keresahan ini semakin menjadi

Rupanya meski tak saling menyapa, kami saling peduli. Kami saling menjaga dalam diam. Aku baru ingat sempat tiba-tiba ada yang datang ke warung sambil terisak menceritakan kisah hidupnya. Ada yang setiap pagi merapikan akses kamarku karena mungkin dia tahu aku kesusahan masuk kamar. Begitu juga di parkiran, ada saja yang menyiapkan satu ruang untuk motorku. Aku juga pernah menawarkan ruang parkirku ke mbak-mbak yang saat itu gak kebagian tempat parkir
"Aku bisa taruh motorku di warung" jawabku saat dia merasa gak enak. Begitu banyak hal-hal kecil yang saat itu aku rasa biasa saja, kini aku malah merindukannya. Kemana mereka semua? Entahlah. Baru aku sadari benar kata Bang Rhoma, bila sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga... eits pasti pakai nada ya bacanya haha

"Mbak, gak pingin pindah ke bawah? Aku WA ke penghuni kost yang tersisa di lantai atas. Berharap dia pindah ke bawah biar aku ada tetangga
"Besok lah sekalian bayar kost ke ibuk" balasnya melegakanku. Eh tunggu, bukankah ini sudah telat sekali dia bayar kost? Haha
"Buk, kenapa gak pindah ke bawah aja" tanyaku ke penghuni satunya saat sore tadi dia ke warung.
"Duh gak enak mau ngomong, belum bayar kost soalnya, pingin sih tapi malu, entar aja kalau udah bayar kost" Rupanya bukan aku saja yang telat bayar, mereka berdua juga sama. Aku lebih beruntung karena sudah bayar beberapa hari lalu. Covid-19 ini memang memukul segala lini. Termasuk warungku dan bisnis lain yang digeluti semua orang. Beberapa menyerah meninggalkan kost yang entah kemana perginya. Yang lain ada yang katanya pindah mencari yang lebih murah. Sepertinya kini semua dalam mode bertahan di tengah pandemi

Kini, di kost ini, dari 12 kamar, hanya 3 yang terisi. Sebenarnya dalam tulisan ini, aku ingin menekankan tentang bagaimana rasanya tiba-tiba ditinggalkan sendirian di kost yang awalnya penuh ramai. Tapi sebelum aku menutup paragraf terakhir, kok mendadak aku ingat nasib tempat kost temanku yang katanya dari 15 kamar, tinggal dia dan satu tetangganya di lantai dua. Banyakkah yang seperti ini? Sampai kapan akan berlanjut? Entahlah, semoga Covid-19 ini cepat berlalu, dan nanti ketika kost ini penuh lagi, aku akan lebih sering menyapa siapapun tetanggaku. Lebih peduli seperti kepedulian siapapun terhadapku selama ini. Kepada siapapun yang kemarin bertetangga denganku... bukan teman, bukan saudara, tapi saat kalian pergi, jujur kini aku sangat kesepian, aku sangat kehilangan. Sukses lah di manapun kalian kini berada, kelak ketika situasi membaik, semoga kita bisa berkumpul lagi di sini. AstungkarašŸ™