Selamat datang di website resmi Sego Pecel Cakdoell, Kamu bisa pesan makanan di sini atau sekedar berselancar untuk menukar wawasan. Gratis pesan antar untuk area Sembung, Kekeran, Pekilen, Binong, Sayan, Denkayu, Blayu dan sekitarnya. Selamat menikmati!

Kamis, 10 November 2016

Mau Resign? Baca Dulu 4 Hal ini

Resign dari pekerjaan adalah keputusan besar yang gak bisa diambil sembarangan. Keputusan ini sangat menentukan masa depan, terutama dari sudut pandang finansial.

Keputusan ini mungkin tak terhindarkan ketika memang ada sesuatu yang membuat kita merasa gak nyaman lagi bekerja. Tapi perasaan ini terkadang menipu.

Jangan-jangan itu memang hanya perasaan alias masalah kenyamanan itu dibuat-buat. Toh, bekerja menuntut kemampuan beradaptasi dan berkompromi.

Jika belum berusaha lalu sudah bilang mau resign lantaran gak nyaman, hati-hati. Keputusan  itu bisa mendatangkan risiko yang gak main-main.

Berikut ini risiko resign yang mesti diketahui sebelum mengambil keputusan tersebut:

1. Pendapatan hilang

Jika resign sebelum mendapatkan pekerjaan baru, artinya siap hidup prihatin. Sebab, tak ada lagi pemasukan rutin berupa gaji seperti sedia kala.

Itu artinya, rencana anggaran bulanan mesti diubah. Yang tak punya rencana, lebih gawat. Mending bikin rencana finansial dari sekarang jika serius mau memperhatikan masa depan.

2. Kantor baru mungkin gak lebih baik

Niatnya pengin cari tempat kerja dengan kondisi lebih baik, eh, malah mendapat sial. Karena dikejar keinginan untuk mendapat pemasukan, bisa-bisa kita malah asal milih tawaran pekerjaan.

Mungkin gaji di tempat baru lebih tinggi. Tapi suasana kerjanya ternyata sangat gak kondusif, misalnya ada gap antara senior dan junior.

Atau tempat yang baru lebih jauh dari hunian, sehingga ongkos dan waktu yang dihabiskan lebih banyak. Ini juga mesti diperhitungkan ketika hendak memutuskan resign dan cari kerjaan baru.

3. Luntang-lantung

Disarankan untuk berburu lowongan sebelum memutuskan resign. Sebab, jika resign tanpa punya rencana untuk mendapat penghasilan baru, itu adalah tindakan nekad.

Bisa dibayangkan betapa menyiksanya menunggu waktu panggilan wawancara setelah memasukkan lamaran. Belum lagi harus menunggu proses rekrutmen yang bisa makan waktu sampai sebulan lamanya.

Bila resign untuk beriwirausaha, harus sudah ada rancangan usaha yang akan dijalankan, misalnya lokasi, bujet, dan program promosi. Syukur-syukur usaha udah jalan sebelum resign.

4. Kehilangan peluang

Ini terutama berlaku buat mereka yang udah kerja lama lalu memutuskan resign begitu saja. Pekerja yang telah lama bekerja dan berprestasi, tentunya peluang untuk naik jabatan lebih besar.

Misalnya sudah bekerja lebih dari 10 tahun. Seharusnya hal-hal yang dipandang sebagai batu ganjalan dalam karier bisa diatasi demi kelanjutan karier. Namun bukan berarti yang udah lama kerja gak boleh resign.

Jika sudah memikirkan matang-matang, keputusan itu tentu bisa diambil. Hanya, ingat juga soal uang pensiun. Perusahaan umumnya memberlakukan pemberian dana pensiun dari lama kerja.

Jika sudah berusia 40 tahun lalu pindah kerja, berarti masa kerjanya hingga pensiun pada umur 60 tahun tinggal 20 tahun. Jadi, uang pensiun yang diberikan hanya senilai dengan 20 tahun masa kerja itu.

Ini uang pensiun dari kantor sendiri, ya. Bukan dari iuran wajib pemerintah seperti BPJS Ketenagakerjaan.

Empat poin di atas merupakan risiko resign yang banyak dialami orang-orang. Meski begitu, gak lantas resign itu hanya mendatangkan risiko.

Dengan resign dan memulai karier baru, mungkin saja peluang maju lebih besar. Zona nyaman memang kadang perlu ditinggalkan untuk mengejar peluang.

Karena itulah keputusan resign memerlukan alasan dan rencana ke depan yang matang. Tanpa kedua hal itu, risiko resign sudah siap menanti di depan mata.

Sumber: duitpintar.com