Selamat datang di website resmi Sego Pecel Cakdoell, Kamu bisa pesan makanan di sini atau sekedar berselancar untuk menukar wawasan. Gratis pesan antar untuk area Sembung, Kekeran, Pekilen, Binong, Sayan, Denkayu, Blayu dan sekitarnya. Selamat menikmati!

Selasa, 03 November 2015

3 Akun Media Sosial

Clovers...
Untuk semakin mendekatkan diri dengan pelanggan kami, berikut kami bagikan tiga akun sosial media kami yang alhamdulilah salah satunya sudah terverifikasi. Itu berarti bahwa akun sosial  kami resmi dan dapat dipertanggungjawabkan keberadaannya. Dan...

1. Facebook
Sebagaimana kita tahu, facebook adalah media sosial paling besar saat ini. Hampir semua generasi sekarang memilikinya. Dan untuk menjalin interaksi dengan pelanggan disana, kami telah memiliki sebuah fanpage/halaman resmi Sego Pecel Cakdoell. Jika kalian kebetulan juga pengguna facebook, silahkan bergabung dengan halaman tersebut dengan klik www.facebook.com/segopecelcakdoell lalu tekan tanda jempol yang ada disana. Jika kalian kebetulan sudah ada di facebook, silahkan masukkan kata Sego Pecel Cakdoell di menu pencarian, pastikan pilih akun halaman dengan logo huruf C berwarna merah

2. Twitter
Media Sosial yang satu ini nampaknya lebih simpel dan eksklusif saat ini. Dengan batasan karakter pada setiap postingannya, membuat para penggunanya merasa lebih efisien dalam berinteraksi satu sama lain disana. Begitupun kami, dengan semangat efisiensi dan keakraban, kami juga mempunyai akun twitter. Kami mengundang kalian untuk mengikuti akun twitter kami dengan cara klik www.twitter.com/cakdoell lalu pilih follow. Jika kalian kebetulan sudah berada didalam twitter silahkan ketik @Cakdoell di menu pencariannya dan follow

3. Google+
Sebenarnya media sosial yang satu ini belum begitu punya pengguna. Tapi kami punya alasan sendiri untuk eksis disana. Salah satunya karna google+ punya jaringan yang sangat besar bersama raksasa mesin pencari Google. Dengan memiliki akun google+, maka kami bisa dengan mudah menunjukkan lokasi kami kepada Clovers via google maps. Apalagi di google+ ini, lokasi dan akun kami sudah diverifikasi langsung oleh pihak google sehingga semua yang kami publikasikan disana lebih bisa dipercaya. Jika Clovers ingin bergabung dengan akun google+ kami silahkan klik www.google.com/+Cakdoell. Atau seperti pada dua media sosial sebelumnya, jika kebetulan Clovers sudah berada didalam google, silahkan ketik +Cakdoell di menu pencarian.

Demikian tiga akun media sosial kami. Semoga semakin mendekatkan kita dan bermanfaat. Amin

Rabu, 07 Oktober 2015

Tips Menghindari Agen Asuransi

"Hai kamu, apa kabar? Kebetulan banget aku sedang cari-cari kamu. Yuk kapan kita makan-makan gitu"

Haha, pernah dengar kalimat diatas kan? Iya, biasanya sih dari orang yang gak begitu akrab atau bahkan hanya pernah sekali bertemu saat tukar nomer telepon dulu. Tapi herannya, kalimat tadi bisa terdengar ramah dan seolah kita sudah lama bersahabat. Nah, dialah agen asuransi. Biasanya dia rajin menelepon, menyapa hingga akhirnya bertemu menawarkan polis asuransi. Sebenarnya tidak ada yang salah sih dengan tawarannya, tapi yang sering menganggu, dia akan antusias dan getol sekali menghubungi bahkan di jam-jam yang tidak masuk akal. Anehnya kita seolah terpaksa mendengarkan presentasinya walau sebenarnya kita tidak tertarik. Mengganggu bukan? Nah berikut satu tips ampuh untuk menghindari kejaran agen asuransi.

Terima ajakan bertemu dan begitu sudah masuk topik, sampaikan bahwa kita sudah punya asuransi. Seorang agen asuransi yang berbakat biasanya tidak menyerah begitu saja, dia akan terus mengejar dengan berbagai pertanyaan seperti... "coba donk lihat kartunya" atau "berapa premi sebulan". Tapi jangan gugup, inilah saatnya untuk meninggalkan dia, bilang saja... "sebenarnya aku juga agen asuransi yang sedang dikejar target. Pertemuan ini aku pikir bisa menambah nasabahku hehe" ucapkan itu sambil berkemas dan jangan lupa bilang ada janji presentasi calon nasabah berikutnya.

Clovers...
Demikian tadi tips untuk menghindari kejaran agen asuransi. Tetapi jika belum punya asuransi satupun, maka sebaiknya kita terima agen tersebut dan pelajari apa yang disampaikannya. Karena pada dasarnya kita sangat butuh asuransi. Setuju?

Sabtu, 08 Agustus 2015

Tentang Onih

Pintu kamar sengaja kubuka pelan agar Mami tak terkejut dengan kedatanganku. Tetapi, mata Mami rupanya sudah terbuka sebelumnya dan ia langsung menatap kearahku dengan penuh harap.
"Apa yang dikatakan abangmu di telepon tadi? Onih sudah ketemu?" tanya Mami setelah kugenggam lembut tangannya. Ia ingin beranjak dari tempat tidur tetapi buru-buru kucegah.
"Onih ada di Bogor. Abang sudah meneleponnya untuk segera pulang. Tetapi, katanya, Onih cuma mau pulang kalau saya yang jemput, Mam."
"Cepatlah kamu jemput dia."
"Sepuluh menit lagi, Abang mungkin sampai. Kami akan ke Bogor bersama-sama." Mami lama menerawang
"Nanti sampaikan padanya, Mami tidak akan marah lagi dengan apa pun keputusannya, asalkan ia tidak meninggalkan rumah ini. Mami dulu yang membawanya ke rumah ini, jadi Mami yang bertanggungjawab sepenuhnya terhadap Onih. Sama seperti terhadap kamu dan Andri," gumamnya agak lama kemudian. Aku hanya mengangguk meski dalam hati aku merasa keberatan mengakuinya. Tanggung jawab yang Mami pikul terhadap Onih jauh lebih berat ketimbang terhadap aku dan Bang Andri.
"Katakan juga kalau Mami tidak akan melarang pilihannya untuk menjadi ban…" Mami menggantung kalimatnya sendiri. Di luar terdengar suara mobil Bang Andri.
"Pergilah segera!"
Bergegas aku keluar kamar. Setelah memberi sedikit pesan kepada Bik Isah, aku langsung menyuruh Bang Andri menjalankan mesin Kijangnya. Jakarta-Bogor tak akan terlalu melelahkan. Yang mencemaskanku, kalau sampai di Bogor ternyata Onih tak mau pulang. Onih tetap memilih kabur dari rumah! Seperti alasannya saat aku dan Mami menemukannya di perempatan jalan dekat rumah ....

***
"Kenapa kamu berdiri di sini dari tadi?" tanya Mami, yang matanya begitu awas menangkap kesusahan orang di sekitarnya.
"Saya bingung, Tante," anak lelaki itu menjawab tanpa ragu.
"Bingung kenapa? Kamu kabur dari rumah, kan?  Di mana rumah kamu. Biar diantar pulang." Anak lelaki itu mendekap tasnya erat-erat sambil menggeleng.
"Di rumah, semua benci saya. Apalagi, sejak Ibu sama Bapak meninggal. Pakle dan bukle suka mukul saya."
"Mungkin kamunya bandel. Sudahlah, siapa nama kamu?"
"Sahroni. Tapi, teman-teman memanggil Onih."
"Baiklah, sekarang kamu mau tetap di sini sampai ada orang jahat menemui kamu atau ikut sama Mami dan Mita?"
"Asal tidak dibawa pulang, saya ikut sama Tante."
"Pilihan yang bagus. Mulai sekarang kamu harus panggil Mami, bukan tante. Dan ini saudara kamu, Mita."
Aku menyalami Onih. Dalam hati aku merasa senang karena aku akan punya teman sebaya di rumah, meski dia anak laki-laki. Sebelumnya, aku di rumah lebih sering ditemani oleh Bik Isah karena Mami sibuk dengan bisnis laundry dan florist-nya, sementara Bang Andri yang lebih tua tiga tahun dariku mulai sibuk pacaran. Onih dimasukkan ke SMP swasta oleh Mami, duduk di kelas satu sama seperti aku. Meski lain sekolah, kami bisa belajar bersama. Apalagi, Onih ternyata cerdas dan banyak membantu otakku yang sedikit kesulitan mencerna beberapa pelajaran, walaupun beberapa waktu kemudian akhirnya kami lebih banyak ngobrol ke sana-sini. Entah kapan mulainya, Mami melarangku terlalu akrab bermain dengan Onih. Mami sengaja memanggil guru privat yang berbeda untuk aku dan Onih. Tapi diam-diam, saat Mami sibuk, Onih sering menyelinap ke kamarku dan mengajakku melakukan kegiatan yang tak pernah kupikirkan. Hari tertentu kami ke dapur, mencoba membuat puding, kue, atau masakan apa saja yang Onih baca di majalah Mami. Meski kadang rasanya tidak karuan, Onih menyuruhku untuk menyisakan sebagian hasilnya untuk Mami.
"Tapi, cukup bilang kamu yang membuatnya," pesannya. Pada hari lain, Onih memotong rambutku yang terurai sampai ke pinggang hingga sedikit di bawah bahu. Ia kemudian menariknya ke atas dan memberinya pita berwarna perak.
"Kamu cantik kalau dari dulu rambutmu dibeginikan. Aku paling benci kalau perempuan rambutnya panjang, apalagi kalau dibiarkan terurai. Kayak kuntilanak," kata Onih. Ketika Mami menanyakan rambutku sambil marah-marah, aku mengatakan seperti yang dipesan Onih.
"Tadi, ada anak iseng di kelas melempar lem aibon. Daripada diketawain, Mita langsung minta potong saja sama Bik Isah" Dan di hari lainnya, Onih membantuku membalas surat cinta dari seorang kakak kelasku yang tidak pernah kusuka. Isinya kocak dan membuatku terpingkal-pingkal.
...Fido yang kembarannya Kingkong, maaf kalau saya menolak cinta kamu. Abis saya takut sih ngeliat kamu yang gede, gendut, dan item. Padahal, kalau anak ABG kayak kita kan lebih enak pacarannya disebut cinta monyet. Tapi, sama kamu nanti dibilang cinta Kingkong. Iiih …, takuttt! Nanti kalau kamu udah enggak gendut dan item lalu bisa operasi plastik biar mirip sama cover boy, yakin deh Mita nggak nolak. Udah dulu yah. Kalau punya peti jangan ditaruh duri, kalau sakit hati jangan bunuh diri (kuburan sewanya mahal lo sekarang).

Salam,
Susmitha alias calon Miss Universe pertama dari Indonesia...
Ketika kuceritakan pada Onih, cowok yang namanya Fido itu kemudian tak pernah berani menatapku lagi, Onih cuma menepuk dadanya sambil kemudian terbatuk-batuk. Keakraban kami lama-lama diketahui juga oleh Mami.
"Kalian memang bersaudara, tetapi cuma saudara angkat. Ingat, kalian satu sama lain bukan muhrim. Anak lelaki tidak boleh main dengan anak perempuan. Apalagi kalian sudah remaja," Mami berceramah. Tidak cuma itu. Mami membebani kami dengan setumpuk kegiatan lain yang berlawanan. Aku diwajibkan les piano tiga kali seminggu dan kursus bahasa Inggris privat pada hari sisanya. Sementara, Onih harus mengambil latihan bela diri pada hari Minggu dan kursus komputer di hari lainnya. Dan, setiap makan malam kami diminta untuk menceritakan kegiatan kami sepanjang hari kepada Mami. Yang mengejutkan aku, Onih ternyata sanggup membohongi Mami setiap malam. Aku tahu Onih hanya minggu-minggu pertama saja ikut karate, selanjutnya kudengar ia sering main ke rumah teman sekolahnya yang punya salon kecantikan cukup beken di Jakarta. Sementara kursus komputernya cuma dimasuki sesekali karena ia pernah bolos sekali mengantarku les piano lalu tertarik ikut studio tari yang ada dekat tempat lesku. Sejak itu, Onih ikut latihan menari di sana. Entah, bagaimana caranya Onih bisa berbohong setiap malam dengan cerita-cerita yang begitu meyakinkan Mami.
"Besok Onih sudah mulai latihan D-Base. Mungkin sebaiknya komputer kita di rumah diganti saja dengan yang baru." Pada malam lain, Onih bercerita tentang karatenya.
"Minggu depan ada kejuaraan, tapi Onih nggak kepilih ikutan. Kayaknya sih si pelatihnya sentimen." Akhirnya, aku agak khawatir juga dengan sifat Onih. Kutegur dia baik-baik, tetapi jawaban Onih sungguh di luar dugaanku.
"Aku yang berbohong, Mita. Dosa atau tidak, itu urusanku." Sejak itu, aku agak menjaga jarak. Sedih juga setelah empat tahun sering bersama, aku harus berjauhan dengannya. Tetapi lama-lama, aku jadi terbiasa. Apalagi di bangku SMU aku mulai disibukkan lagi dengan aktivitas di sekolah dan juga Yus, pacar pertamaku. Aku nyaris tak pernah tahu lagi apa yang dikerjakan Onih di luar rumah. Yang kutahu ia mulai sering keluyuruan malam diam-diam. Ia tak pernah menceritakan apa-apa lagi padaku. Hanya sesekali dia melontarkan cerita-cerita lucu saat sarapan.
"Kemarin di Plaza Senayan ada nenek-nenek bertiga dilempari batu sama orang-orang. Kasihan, deh."
"Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Mereka ngaku-ngaku AB Three, penyanyi yang lagi beken itu." Mami, aku, dan Bang Andri tertawa. Dan aku ingat, itulah tawa Mami terakhir di depan Onih karena pada malam harinya suara menggelegar Mami yang terdengar. Saat itu, aku masih nonton TV pertunjukan tengah malam ditemani Bang Andri. Tiba-tiba, suara mobil yang masuk ke pekarangan rumah dengan suara rem yang mendecit disusul suara pintu mobil yang dibanting membuat aku dan Bang Andri terbangun. Ketika kubuka pintu rumah, kulihat Mami tengah menyeret lengan kiri Onih. Aku terpekik kaget melihat Onih. Ia memakai pakaian yang mestinya melekat di tubuhku. Blus warna merah jambu dengan rok mini kotak-kotak. Stocking coklat menutupi bulu-bulu kakinya, sementara tangan kanannya menenteng sepatu dengan hak setinggi lima senti. Rambut palsunya kalau tak kusut pasti akan seperti rambut model Jackie Onasis di majalah-majalah wanita.
"Tadinya, Mami tidak percaya apa kata teman-teman Mami. Tenyata Mami salah memberi kepercayaan padamu. Dasar anak enggak tahu diuntung. Ngapain kamu di Taman Lawang malam-malam begini? Biar saudara-saudara kamu tahu bagaimana tampangmu yang sebenarnya!" urat leher Mami tampak menegang. Onih tak bersuara. Matanya datar-datar saja.
"Siapa yang ngajarin kamu jadi banci? Heh! Mami? Katakan? Benar-benar keterlaluan. Kamu boleh jadi banci, tapi jangan injak lagi rumah ini!" Jantungku berdegup keras mendengarnya. Kutuntun segera Mami ke kamarnya karena ia tampak lemas. Aku memang mengkhawatirkan jantungnya yang memang lemah. Esoknya, aku tidak menemukan Onih di kamarnya. Rupanya, ia begitu yakin dengan pilihannya yang tak pernah kuduga. Kuingat-ingat lagi masa-masa yang kami lalui. Memasak, memotong rambut, menari, salon ... ah, kenapa tak pernah kusadari? Persaan jijik, benci, dan khawatir terhadap Onih berbaur. Semuanya makin mengental ketika Mami jatuh sakit dan meminta aku dan Bang Andri mencarinya. Kini setelah satu minggu, baru kutahu di mana jejak Onih. Hujan yang turun di Kota Bogor membantuku menenangkan perasaan. Rasanya, aku harus mulai memaafkan Onih seperti Mami.

***
Mami lama menatap Onih. Matanya basah, tangannya mengusap kepala Onih di dadanya.
"Maafkan saya, Mam. Mami benar, saya anak tak tahu diuntung sudah menyusahkan Mami." Onih sesengukkan. Air matanya, sejak pertemuan denganku di Bogor tadi, terus mengalir. Meskipun tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya di sepanjang jalan, aku tahu Onih begitu mengkhawatirkan Mami.
"Jangan kamu ungkit-ungkit lagi. Dengarkan saja Mami sekarang. Tidak cuma Onih, tapi juga Andri dan Mita. Mami takut tak sempat bicara lagi nanti," Mami menarik napasnya.
"Kalian kan tahu kenapa Mami mengangkat kalian satu per satu menjadi anak Mami. Karena Mami tidak bisa punya anak, meski seandainya kawin. Tetapi, tidak pernah terpikir dalam hidup Mami kalau kemudian akan bertemu dengan Onih yang kabur dan punya cerita hidup mirip Mami. Bedanya, Mami tak pernah ditemukan siapa-siapa, diangkat anak, disekolahkan, dan dikursuskan. Mami jadi anak jalanan, tahu pengalaman seks pada usia dini dan sangat tidak menyenangkan. Pergaulan dan pengalaman yang Mami dapat akhirnya menjadikan Mami seperti sekarang ini. Karena Mami tahu getirnya, maka Mami arahkan semua agar tak menyimpang seperti Mami. Tetapi, rupanya Tuhan berkehendak lain pada Onih ...." Onih mengangkat kepalanya hendak berkata. Tetapi, buru-buru Andri mencegahnya.
"Mami memang tidak bisa mengubah takdir Onih. Sebaiknya, segalanya sudah kamu pikirkan masak-masak kalau kamu memang pengen menjadi seperti Mami. Jangan nanti menyusahkan dirimu sendiri atau saudara-saudaramu. Buat Mita dan Andri juga harus menghormati pilihan Onih." Semua menganguk. Mami tersenyum.
"Kalian pasti enggak pernah tahu apa yang paling Mami inginkan dari kalian bertiga. Mami ingin kalian nantilah yang mengurus pemakaman Mami. Tentu saja karena Mami dulu lahir sebagai laki-laki, pengen juga dikubur jadi laki-laki. Meski separuh hidup Mami dijalani sebagai banci..." Aku melirik ke arah Onih. Dia sebenarnya cukup tampan sebagai cowok. Entah kapan pikiran menjadi banci muncul. Mungkinkah sejak aku sering mengajaknya main seperti anak perempuan? Kalau memang begitu, mungkinkah aku juga bersalah?

***
Pemenang Lomba Cerpen Majalah Pria MATRA 1996

Sabtu, 27 Juni 2015

Jangan Bening

Clovers yang tinggal di desa-desa bagian timur pulau Jawa pasti tidak asing dengan menu yang satu ini. Jangan Bening, sayuran berbahan utama daun bayam dengan hanya mengandalkan kunci, sejenis kunyit-kunyitan beraroma khas yang segar. Nah, kini Clovers tak perlu lagi datang ke daerah itu untuk menemukan citarasanya karena di Sego Pecel Cakdoell Clovers bisa menikmatinya hanya dengan sekali ucap, Jangan Bening!

Senin, 22 Juni 2015

Bule: Indonesian hot salad!

Awalnya ragu apakah mereka akan suka, tetapi setelah porsi terhidang... "Hmm, i like it! Its called Indonesian hot salad" tutur Max penuh semangat yang diamini oleh pasangannya. Rupanya banyak juga yang menggemari Sego Pecel di Eropa sana. Nah, kalau sudah begini bule aja suka, masak kamu enggak

Kamis, 18 Juni 2015

Vocer!!






Clovers...
Menyambut puasa kali ini, kami meluncurkan satu lagi inovasi untuk lebih memanjakan kalian para pelanggan. Inilah VOCER MAKAN. yah, dengan vocer ini Clovers bisa lebih simple jika ingin mengajak teman-teman buka puasa bersama.
Ayo segera dapatkan vocer tersebut hanya di Sego Pecel Cakdoell.

Sabtu, 17 Januari 2015

Pecel Komplit

Clovers...
Kali ini kami perkenalkan menu Baru kita, Pecel Komplit. Yah, sesuai namanya, hidangan ini terdiri dari kombinasi pecel original dan semua varian pelengkap yang ada di Sego Pecel Cakdoell. Seperti Ayam, telor, sate dan ikan. Dengan memilihnya, Clovers sudah bisa menikmati semua kelezatan hidangan kami dalam satu porsi menu. Hanya 25K sudah termasuk es jeruk yang luar biasa segar. Jangan sampai kehabisan, segera pesan mejamu via 081234162140 atau datang langsung ke Sego Pecel Cakdoell warung mana saja!