Selamat datang di website resmi Sego Pecel Cakdoell, Kamu bisa pesan makanan di sini atau sekedar berselancar untuk menukar wawasan. Gratis pesan antar untuk area Sembung, Kekeran, Pekilen, Binong, Sayan, Denkayu, Blayu dan sekitarnya. Selamat menikmati!

Kamis, 18 Juli 2013

Mata Kancing



‘ naskah bisa dikejakan dari sekarang, yang waktunya dua jam.”
Bismillahirrohmaniirrohim.......” semoga otakku mampu bertahan . Mungkin pengawas mengawasi kami seperti anak kecil yang harus dijaga rapat-rapat. Naskah kertas biru ini membuatku takut, so’al-so’alnya sesak di kertas sekecil itu. Bejibun banyaknya angka-angka yang semuanya membingungkan, kurasa bekalku selama tiga tahun tidak ada gunanya.
Tanpa kusadari, gerakan menghitung kancing kembali kulakoni. Hal yang selalu dilakukan ulangan, meski ada enam mata kancing, hanya empat yang kupakai, karena memang hanya ada empat jawaban. Kebiasaan yang hendak kutinggalkan. Tapi, kalau nanti tidak lulus bagaimana????
Ujian hari pertama membuatku sakit, padahal baru sekali. Lemah sekali aku ini. Emak masih mendendangkan lagu kesukaanya, lagu india versi Indonesianya beliau sendiri di dapur. Meski tak sebagus si penyanyi asli, cukuplah untuk masuk radio desaku.
“ Sudah belajar, Riff?’
“lagi ini Mak.”
Aku berbohong. Padahal, aku sedang mencopoti kancingku satu persatu, sudah untung bisa naik ke SMP, kalau ke SMA? Berharap saja sudah tesiksa, apalagi berdo’a?
Makan seperti tidak makan. Minum seperti minum air kran. Berjalanpun seperti melayang kesana kemari, gentayangan. Pandangan Emak mengawasiku dari tadi, matanya terlihat besar bulat dari tempatku duduk, dan aku seperti hantu. Percuma sekolah mahal-mahal kalau tidak naik, mau jadi apa?
“Rif nggak akan mengecewakan Emak, kan?’’
Pertanyaan itu, pertanyaan yang sama seperti tiga tahun lalu. Tatapan yang sama, dan, apa yang sebenarnya Emak ingin capai?
“Mak, maafkan aku entah nanti berhasil atau tidak, bakal anak Emak ini berusaha.”
“Harus. Kau harus ingat pesan Wak Acik, Emak sudah bayar mahal-mahal untuk nasihat gurumu itu,”
Sial. Apa yang harus kujawab?
“Berangkat dulu, Mak. Assalamu’alaikum warohmah.” Ahh....aku ingin bunuh diri saja. Kali ini bagaimana?
Tik....tik.....tik.....
Detik jam menusuk tiap urat sarafku, membawaku masuk kembali pada mantra Wak Acik, gurunya Emak.
“Woi! Napa Brow? Jangan ngelamun hari gini, inget Umur Nda.....”
Ha???ngelamun. “sudah belajar kamu Jiz?”
Bodoh, memangnya aku ini siapanya tanya hal seprti itu.
“Gampang, tinggal nunggu nanti aja.”
Dia meninggalkanku dengan pikiran pikiran aneh dan berdosa, mencontoh. Siswa kelas tiga
Sudah beranjak masuk ke kelas, wajah mereka bagai berseri-seri, saling tertawa dan menyapu. Satu hal yang pasti kancing-kancingku sudah hilang
Ruang kelas sepi, dan ujian dimulai. Kembali aku berdo’a, dan mencoba menghilangkan mantra wak acik seperti kemaren. Pengawas memasuki ruangan, busananya tak kalah menor dari yang kemarin, lebih mancung, mancung dahinya
Allah Akbar.......,susahnya bukan main. Keringat dingin penuh membasahi telapak tanganku, arena semakin panas, peluh mulai bergulir keluar melalui pori-poriku. Tanganku menggaruk dahi dari tadi, menggaruk dahi yang tak gatal, percuma, kebiasaanku kambuh lagi.
Tanganku gemetaran hebat, hingga mejakupun dapat merasakanya. Konyol, aku sudah membuang kancing-kancing iytu, dan kurasa hanya aku seorang diri yang tidak dapat ijasah. Kuputar pandang sekeliling, semua rajin menengok ke bawah, sedang apa mereka?
“stt, rif, tengok kanan Bro!,” suaranya memecahkan lamunanku. Rupanya ia memberiku benda yang amat kubenci, dimasukkanya degan cepat kekepalan tanganku. Aku terbengong-bengon, buat apa ia melakukanya? Tanganku kembali menggelugut, kubuka pelan sekali, kutengok kanan-kiri, depan-belakang, mataku berkunang-kunang menatap kertas lusuh itu, nanar.
15 menit lagi......10 menit lagi.......dan kolomku masih kosong. Pengawas menor mulai mengintip dari kacamatanya, menyipitkan mata dan menatapku. Kurapikan rambut klimisku dengan tangan, dan sebelah matanya masih mengawasiku
Jarum menit makin maju, semangatku makin reras. Ada banyak pilihan, yang A, B, C, D, tapi mana yang benar? MasyaAllah, sanggupkah hambamu ini menjadi yang terbaik di matamu? Meski sudah mencoba, rengkuhan brengsek itu masih menggelayutiku. Mendenyutkan alam bawah sadarku, ingin dibuka dan diliha. Tidak. Jujur lebih Baik kata Emak, iya, jujur. Persetan jawaban, aku sudah berusaha. Helaan nafasku berat, dan kali ini aku tak akan lolos lagi.
Giliranku tinggal satu nama lagi, dan, makin getol merapalkan namaNya.
“....Arif Tumpu Do’a”
I, i, itu namaku. Ya Tuhanku, aku tidak tahu jawaban ini betul atau salah, tanganku menari-nari mengoper jawaban hitam ke lainya, A-B-C-D.....
Aku pulang. Tak kan ada yang tahu sebesar apa penyesalanku, melahap setengah jiwaku jatuh entah kemana, hanyut terbawa arus sungai Brantas, Aku, apa jadinya kalau nanti,..., eh, mana Emak?
***
Lorong rumah sakit gelap, amat suram sejadi-jadinya bagiku. Kabin Emak masih terkunci, hanya perawat dokter yang boleh masuk. Sakit apa Emakku.....
Pintu kabin masih terttutup, kulangkahkan kakiku pelan, pelan dengna berbagai do’a keselamatan, pelah dengan harapan-harapan biru Emak, an lulus. Di dalam sana seorang wanita tua berbaring lesu, cekung matanya melingkar hitam, memolahkan wajah elok yang hampir pudar diterpa masa. Ada banyak mimpi di balik manik coklat itu, dan bayang-bayang kematian bapak. Mulutnya terkatup, polos tanpa hiasan apa pun.
“Arif, pasti lulus kan?”
“Ah, iyalah Mak. Pasti, kan sudah dapet do’a dari Emak.....”
Kupejamkan mataku rapat-rapat, mungkin ada celah di sana untukku, pasti ada.
***
Sabtu, 3 Juni 2012
Berkusu-kusu murid dan orang tua berjalan di kecamatan, tujuan mereka satu, hasil pengumuman. Emakku teratih keluar dari becak, tubuhnya belum pulih benar, jalanpun harus dipapah, agar tak goyah. Mulutnya mengoceh dari tadi, tanpa titik dan koma, dan pandangan yang berbinar-binar. Seperti barang diskon-an , Emakku memerosokkan diri masuk ke kumpulan orang-orang itu.
Jalanan riuh kendaraan beroda,
Prakkkk.......
Badanku ambruk ke jalan setapak, membuat pandanganku gelap. Dan banyak cahaya putih disini, aku terpendar ketika kudengar dari atas ,
“Arif!! Anak Emak tersayang lulus”
***
Sudah seminggu aku lelap, dan mimpi ini membuatku terbangun. Emak memandangku lekat-lekat, dielusnya kakiku, dan lirih ia berkata,
“Untung kau ikut nasihat Emak hingga bisa lulus, Wak acik memang sakti.”
Senyum lebar menempel diwajahnya. Hatiku berontak, bukan ini yang ingin kudengar. Kenapa beliau ingin aku seperti itu?Biarlah, semua sudah berlalu. Esok, masih banyak ujian yang menunggu, dan kurasa aku tidak mengingat mantra guru Emak lagi. Tunggu, kenapa di sampingku banyak kancing? Apa Emak meminta bantuan Wak acik lagi?

Cerpen by. Amanzoe Aninda
(klik namanya untuk lebih dejat dengannya)

Senin, 08 Juli 2013

Mie Ayam Bakso


Jika kamu pingin makan Bakso tapi penasaran dengan aroma khas Mie Ayam di Ayam Goreng Cakdoell, Jangan khawatir, kami menyediakan sebuah porsi dimana Clovers dapat menikmati keduanya dalam satu mangkuk saji. Kami menyebutnya Mie Ayam Bakso, hanya dengan Rp. 8.000 Clovers sudah bisa mendapatkannya. Segera datang dan rasakan sendiri sensasinya. Dengan 32" LED perform, dijamin semakin berasa enaknya.

Sabtu, 06 Juli 2013

Rob dan... (lupa namanya)


Hmmm, kapan jadinya berkunjung lagi Rob? Tak terasa perjumpaan itu sudah hampir tiga tahun berlalu, kini apa yang aku ceritakan pada kalian sudah menjadi kenyataan dan ketika kalian datang lagi nanti, aku ingin membuatkan menu spesial seperti yang ada di restoren hotel itu ha ha.

Tercecer


Salah satu kenangan masa SMA yang masih tercecer di ingatan. Tentang cinta dan persahabatan. Sehingga terpaku dalam prinsip ini bahwa cinta sejati adalah persahabatan. Setuju?

Saudara Kecil


Novia Estianti, Saudara kecil saat di Yayasan itu kini telah menjadi eksekutif muda di Ibukota. Dan dalam liburanya ke Bali bersama perusahaan tempat dia bekerja saat ini, alhamdulillah berkenan mampir ke (cikal-bakal) restoran kakaknya. Haru dan salut mengingat siapa diri kita beberapa tahun yang lalu saat masih di Yayasa.. Semoga kesuksesan senatiasa bersama kita, amin.

Kamis, 04 Juli 2013

Rombongan Dari Russia


Lihatlah, begitu antusias mereka menikmati menu-menu yang kami hidangkan. Bahkan diantara mereka ada yang nambah nasi gorengnya. "delicious!!" Kata salah satu dari mereka. Mereka adalah rombongan dari Russia yang sedang berburu kuliner Indonesia. Ayam Goreng Cakdoell, yang merupakan penyaji masakan Indonesia menjadi salah satu target yang... "great point!" celetuk sang cewek sambil tertawa

Menjamu Bule


Nah, Bule saja sangat nyaman ketika menikmati menu-menu di Ayam Goreng Cakdoell. Berada dijalur utama pariwisata Bali, kami siap menjamu kapanpun anda datang. Bahkan Menjmu Bule sudah menjadi kebiasaan kami.

My Special Moment








Tuhan...
Jadikanlah kami keluarga yang tenang, nyaman dan diberkati. Berikanlah kami anak-anak yang baik lahir dan batinnya, amin.

Cakdoell Team


Dari kiri, Doell, Ben, Rendra, Tedi. Kami adalah tim generasi kedua di Ayam Goreng Cakdoell. Selain ganteng kami juga siap melayani apapun kebutuhan komsumsi kalian di warung kami. Silahkan mencoba dan nikmatilah senyumann kami ;)