Selamat datang di website resmi Sego Pecel Cakdoell, Kamu bisa pesan makanan di sini atau sekedar berselancar untuk menukar wawasan. Gratis pesan antar untuk area Sembung, Kekeran, Pekilen, Binong, Sayan, Denkayu, Blayu dan sekitarnya. Selamat menikmati!

Rabu, 22 Desember 2010

Selamat Datang Liga Primer Indonesia


Sore ini, Rabu, 22 Desember 2010 Liga baru sepak bola Indonesia telah di luncurkan. Liga Primer Indonesi (LPI), menjawab kekecawaan sebagian pecinta bola akan profesionalitas kompetisi yang sudah berjalan. Lepas dari segala kontroversi, tidak salah kiranya kita mendukung kompetisi ini. Sebuah kompetisi yang mandiri tanpa mengandalkan keuangan negara.
SEPAK bola Indonesia
sedang mendapatkan
momentum baru.
Keberhasilan
kesebelasan nasional
Indonesia untuk melaju
hingga ke final Piala AFF
2010 menimbulkan
kegairahan yang luar
biasa terhadap sepak
bola nasional.
Tempalah besi ketika ia
masih panas.
Momentum yang baik ini
harus dipergunakan
untuk membangun
sistem pembinaan sepak
bola yang benar.
Momentum ini harus
dipakai untuk
menghasilkan sebuah
kompetisi yang
berkualitas.
Inilah setidaknya yang
dilihat oleh pengusaha
Arifin Panigoro. Ia
menggulirkan sebuah
kompetisi sepak bola
yang diberi nama Liga
Premier Indonesia.
Kompetisi yang akan
diikuti oleh 19 klub itu
akan bergulir mulai 8
Januari 2011.
Dengan mengusung
tema "Change the
Game", LPI ingin
menawarkan sebuah
kompetisi yang berbeda.
Sebuah kompetisi yang
tanpa rekayasa, di mana
hasilnya ditentukan oleh
kualitas tim yang
bertanding. Siapa yang
lebih siap taktik, strategi,
teknik, dan juga
fisiknya, dialah yang
berhak memenangi
pertandingan dan
kompetisi.
Kompetisi yang
berkualitas sangat
diperlukan karena itulah
kunci membangun tim
nasional yang bisa
diandalkan. Salah satu
penyebab sepak bola
Indonesia terpuruk
begitu lama, karena kita
tidak pernah mempunyai
kompetisi yang kredibel.
Liga Sepak Bola
Indonesia yang digelar
selama ini sudah
kehilangan
kredibilitasnya.
Kompetisi yang bergulir
setiap tahun, memang
selalu ramai ditonton
pecinta sepak bola.
Namun kompetisi itu
tidak memberikan
kontribusi yang signifikan
bagi pembinaan sepak
bola nasional.
Bagaimana kita mau
mengharapkan lahirnya
pemain berkualitas
apabila terlalu banyak
faktor nonteknis yang
bermain di sana.
Memang sulit untuk bisa
dibuktikan, namun
semua tahu bahwa
kompetisi yang ada
sekarang ini penuh
dengan rekayasa.
Mundur dan bubarnya
klub selama ini
disebabkan karena
terlalu kuatnya rekayasa
pertandingan yang ada.
Suap dan pengaturan
skors membuat banyak
pengurus sepak bola
tidak tahan dan akhirnya
memilih untuk mundur.
LPI yang akan digulirkan
mulai awal tahun depan
mencoba menawarkan
sebuah alternatif. PSSI
memang tidak mengakui
keberadaan kompetisi
yang baru ini dan pasti
berupaya untuk
mengganjal kompetisi
yang menjadi saingan
mereka.
Memang kita sayangkan
adanya sebuah
kompetisi tandingan.
Namun di tengah upaya
pembenahan sepak bola
nasional, mungkin ini
adalah cara yang terbaik
untuk melahirkankan
kompetisi yang kredibel.
Siapa tahu dengan
kehadiran LPI lalu PSSI
mau berbenah diri.
Setidaknya berbagai
masukan yang diberikan
agar PSSI meninggalkan
politisasi dalam
pembinaan sepak bola
akhirnya mau mereka
dengar.
Selama ini PSSI begitu
bebal. Berbagai
keprihatinan yang
disuarakan pecinta sepak
bola sama sekali tidak
pernah mau mereka
perhatikan. Bahkan
ketika Presiden pun
memberikan masukan,
pengurus PSSI tidak
pernah mau
memedulikannya.
Pengurus PSSI seperti
hidup di dunianya
sendiri. Bahkan mereka
selalu berpikir bahwa
otoritas tertinggi yang
harus mereka dengar
bukanlah Kepala
Negara, tetapi FIFA.
Dengan arogannya
seringkali pengurus PSSI
mengatakan bahwa yang
bisa mengatur mereka
hanyalah FIFA.
Berikut adalah 19 klub yg akan bertanding mulai 8 Januari 2011:
1. Aceh United – Pelatih Lionel
Charbonnier (Perancis), Stadion Harapan
Bangsa, Banda Aceh (kapasitas 40.000)
2. Bali De Vata – Pelatih Willy
Scheepers (Belanda),
Stadion Kapten i
Wayan Dipta, Gianyar (kapasitas 25.000)
3. Bandung
FC - Pelatih Nandar
Iskandar, Stadion Siliwangi, Bandung
(kapasitas 25.000)
4. Batavia
Union - Pelatih Roberto
Bianchi (Brasil), Stadion
Tugu, Jakarta
(Kapasitas 20.000)
5. Bogor Raya - Pelatih John
Arwandy, Stadion
Persikabo, Bogor
(kapasitas 15.000) dan
Pajajaran, Bogor
(kapasitas 12.000)
6. Cendrawasih Papua Pelatih Uwe Erkebrecher (Jerman),
Stadion Mandala,
Jayapura (kapasitas
30.000)
7. Jakarta
1928 - Pelatih Bambang
Nurdiansyah, Stadion
Lebak Bulus (Kapasitas
25.000)
8. Kabau Padang – Pelatih
Divaldo Alves
(Portugal), Stadion Agus Salim, Padang
(kapasitas 28.000)
9. Ksatria
XI Solo – Pelatih
Branko Babic (Serbia),
Manahan, Solo
(kapasitas 24.000)
10. Makassar City - Pelatih
Michael Feichtenbeiner
(Jerman) Stadion Andi Mattalata, Makassar
(kapasitas 20.000)
11. Manado United - Pelatih Muhammad Al
Hadad, Stadion Klabat, Manado (kapasitas
20.000)
12. Medan
Bintang – Pelatih Rene Van Eck (Belanda),
Teladan, Medan
(kapasitas 20.000)
13. Medan Chiefs – Pelatih Jorg Steinebruner (Jerman)
Stadion Teladan,
Medan (kapasitas
20.000)
14. Persebaya - Pelatih Aji
Santoso, Stadion
Gelora 10 Nopember,
Tambaksari, Surabaya
(kapasitas 35.000)
15. Persema - Pelatih Timo
Scheuneman (Jerman),
Stadion Gajayana,
Malang (kapasitas
30.000)
16. Persibo
– Pelatih Sartono Anwar, Stadion Letjen
Haji Sudirman,
Bojonegoro (kapasitas
15.000)
17. Real Mataram – Pelatih Jose
Basualdo (Argentina),
Stadion Maguwoharjo,
Yogyakarta (kapasitas
30.000)
18. Semarang United - Pelatih Edy Paryono,
Stasion Jatidiri,
Semarang (kapasitas
25.000)
19. Tangerang Wolves, Pelatih Paulo Camargo
(Brasil), Stadion
Benteng (kapasitas
25.000)
Kita sangat berharap LPI
bisa benar-benar
menghadirkan sebuah
kompetisi yang
berkualitas dan kredibel.
Kalau LPI bisa
melakukan itu, maka
kita bukan hanya pantas
berharap bisa
menyaksikan kompetisi
yang berkualitas, tetapi
mampu
menyumbangkan
pemain yang baik bagi
tim nasional.
PSSI boleh mengancam
mencoret klub dan
pemain yang berlaga di
LPI untuk bisa bermain
bagi tim nasional.
Namun ketika kompetisi
yang baru ini mampu
melahirkan pemain
berkualitas , pasti PSSI
tidak akan bisa menutup
mata.
Harapan kita tentunya
dari kompetisi LSI dan
LPI bisa dilahirkan
kompetisi yang
berbobot. Bahkan pada
akhirnya, ketika akal
sehat yang berbicara,
akan bisa disatukan
kompetisi yang sama-
sama berkualitas itu bagi
terbangunnya sepak
bola nasional yang lebih
andal.
Akhirnya bagi kita,
pecinta sepak bola, tidak
terlalu peduli apakah
kompetisi yang kita
gulirkan itu namanya LSI
atau LPI. Yang jauh lebih
kita inginkan adanya
kompetisi yang
menghibur dan
berkualitas.
Marilah kita sambut
hadirnya LPI. Kita tidak
perlu melihatkanya
secara apriori. Mungkin
ini jalan yang memang
harus kita lalui untuk
membangun kembali
sepak bola nasional yang
sudah terlalu tertidur.
Selamat dan sukses atas peluncuran LPI dan kepada 19 klub peserta, selamat bertanding dengan penuh seportifitas, damai dan salam lima jari.

*sumber: twitter @ligaprimer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar