Selamat datang di website resmi Sego Pecel Cakdoell, Kamu bisa pesan makanan di sini atau sekedar berselancar untuk menukar wawasan. Gratis pesan antar untuk area Sembung, Kekeran, Pekilen, Binong, Sayan, Denkayu, Blayu dan sekitarnya. Selamat menikmati!

Jumat, 09 Juli 2010

Konversi, Kebijakan Atau Setrategi?

Setelah sempat tertunda, akhirnya pemerintah telah medistribusikan perangkat kelengkapan kompor gas berlabel SNI (standar nasional Indonesia). Kebijakan ini dilakukan menyusul maraknya kasus ledakan tabung gas akhir-akhir ini. Sekedar mengingatkan, pemerintah telah melakukan konversi (penggantian) minyak tanah sebagai bahan bakar utama ke elpiji. Dan nampaknya telah berhasil karna hampir semua lapisan masyarakat di seluruh nusantara telah memanfaatkan elpiji yang dibagikan gratis tersebut. Tapi keberhasilan tersebut rupanya hanya sebatas konversinya saja. Tidak mencakup tentang keamanan, efisensi dan layanan berikutnya.

Merupakan langkah yang tepat ketika pemerintah mendistribusikan kelengkapan kompor gas tersebut. Tapi menjadi bumerang karna ternyata masyarakat harus membelinya. Dalam kasus ini, masyarakat seolah berada dalam tekanan. Bila mesyarakat tidak mengganti perlengkapan mereka dengan yang berlabel SNI, tentu pemerintah punya alasan untuk mengelak dari tanggung jawab ketika kelak ada kasus ledakan elpiji. Sementara masyarakat harus menyiapkan uang ekstra jika ingin menggantinya. Ini tentu sangat memberatkan karna mayoritas sasaran konversi adalah masyarakat menengah kebawah. Apalagi konversi ini adalah kehendak pemerintah. Memang, semua kebijakan diambil demi kesejahteraan masyarakat, tapi menjadi salah ketika kebijakan itu mengganggu kesejahteraan lain yang selama ini telah didapatkan.

Sekarang semua telah terjadi. Kebijakan telah diambil, minyak tanah tidak lagi murah dan korban-korban ledakan kompor gas elpiji telah dihitung. Apa yang telah berlalu memang tidak bisa diulang meski salah sekalipun. Tapi setidaknya bisa dijadikan pelajaran. Ketika kompor gas dan kelengkapannya dibagikan gratis tanpa label NSI, seperti inilah akibatnya. Aku yakin pemerintah telah menyadarinya, tahu akan resiko yang diambil atau sengaja untuk mengambil lagi kebijakan yang terlihat tepat dan mulya, padahal sebenarnya tidak perlu ada, kalau label SNI disertakan sejak awal konversi. Baiklah, sekarang semua itu telah berlalu dan kebijakan baru tidak gratis lagi. Masyarakat telah bisa menerima dan mengikuti. Maka sudah sepatutnya pemerintah benar-benar melindungi rakyatnya kali ini. Janganlah kebijakan ini disusupi rencana curang kebijakan masa depan. Sehingga masyarakat benar-benar mendapatkan kenyamanan dalam hidupnya.

Sebagai masyarakat biasa, aku tentu menginginkan segala hal mudah, segala hal murah, dan segala hal aman. Apapun yang pemerintah putuskan tentu aku akan mengikuti, termasuk konsversi minyak tanah ke elpiji. Jengkel, menangis, mati dan bahagia, semua tetap aku lewati demi menjadi putra di bumi pertiwi. Jadi janganlah wahai pemangku kebijakan di negri ini, mengabaikan keberadaanku sebagai masyarakat biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar