Selamat datang di website resmi Sego Pecel Cakdoell, Kamu bisa pesan makanan di sini atau sekedar berselancar untuk menukar wawasan. Gratis pesan antar untuk area Sembung, Kekeran, Pekilen, Binong, Sayan, Denkayu, Blayu dan sekitarnya. Selamat menikmati!

Sabtu, 17 April 2010

UN (revisi)

Aku adalah seorang Kepala SMK (Kasek)di kota kecil dekat Bali. Meskipun kecil, Kota ini mempunyai prestasi yang luar biasa di bidang pendidikan. Sejak tahun 2003, Kota ini mampu meluluskan 100% siswanya. Kecuali pada tahun 2005, dua anak gagal melampaui nilai minimal 4.00 untuk bidang studi Matematika
"tahun ini kita terlena dan gagal menjadi yang terbaik, tidak ada sanksi bagi Kasek yang bersangkutan, tapi secara moral selayaknya dia tahu diri" kata Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) dalam pidatonya mengevaluasi hasil UN 2005. Evaluasi itu diikuti oleh seluruh Kasek di Kota ini. Tapi bagiku saat itu lebih merupakan pengadilan batin yang menyakitkan
"namanya saja yang unggulan tapi kwalitasnya rendah" ujar salah seorang Kasek swasta menyindir
"iya, cuma gara-gara dua murid sekolahnya, Kota kita gagal menjadi yang terbaik untuk ketiga kalinya" ucap Kasek yang lain menimpali
"percuma dapat anggaran besar dari ABPD kalau masih kalah dengan sekolah swasta" entah dari manalagi datangnya suara-suara, semuanya membuat aku tertekan dan terpaksa mengundurkan diri dari SMKN 2 Kota ini. Aku lalu menjadi Kasek di SMK swasta tempatku sekarang. SMK ini juga sukses meluluskan siswanya 100% dalam tiga kali UN, tapi nilai rata-rata mereka sangat kritis dan tentu saja jauh di bawah sekolah-sekolah lain di Kota ini. Di sini aku tertantang menjadikan SMK ini terbaik di setiap UN. Sebagai langkah awal, aku mengundang tiga Guru bidang studi utama UN, Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
"tahun ini, selain
nilai minimal yang dinaikkan, pelaksanaanya juga dimajukan ke bulan April" ucapku mengawali pertemuan itu
"maaf Pak, melihat nilai pada UN sebelumnya, rasanya kita berat melampaui batas minimal tahun ini" kata salah satu dari mereka
"semangat belajar anak-anak sering terganggu dengan banyaknya hari libur disini, saya khawatir mereka tidak menerima materi yang cukup untuk mengikuti UN" ucap Guru yang lain penuh rasa khawatir
"kita harus mencari terobosan baru" aku tutup pertemuan itu penuh semangat.
_
Tahun 2006 hampir semua Kasek di kota ini memberi ucapan selamat kepadaku karna SMK ini mendapat nilai rata-rata tertinggi swasta
"hebat, tapi takkan pernah bisa menjadi nomer satu di Kota ini" ejek Dewa, Kasek SMKN 2 saat keluar dari aula, tempat diadakan evaluasi hasil UN setiap tahunnya. Tapi hal itu cuma terjadi sakali saja karna tahun berikutnya dia harus mendatangiku di atas podium, mengantri untuk berjabat tangan
"sepatutnya kita mencontoh beliau, dengan anggaran dan fasilitas yang terbatas, beliau mampu menjadikan SMK yang di pimpinnya terbaik di Kota ini dan membawanya masuk ke dalam jajaran elit Kota berprestasi di Indonesia" sambutan Kadindik berapi-api. Tepuk tangan pun bergemuruh memenuhi aula yang dua tahun lalu menjadi tempat pengadilan batin bagiku
"semua ini berkat guru-guru kami yang sabar dan siswa-siswi kami yang rajin belajar" kalimatku menyambut seluruh ucapan selamat. Tiga kali sudah aku menyampaikan sambutan yang sama, tahun 2008 bahkan lebih semangat karna ada Kadindik Propinsi.
Yang paling spesial tahun kemaren, Menteri Pendidikan juga hadir menyampaikan selamat.
"bangga?" pertanyaan kecil selalu muncul dalam hati yang ternyata mendorong kepalaku untuk bergeleng. Siapa yang bisa bangga dengan kecurangan...
"semua jawaban sudah terekap, akan saya sms sekarang juga pak" dengan suara lirih guru matematika itu menelepon. Itulah terobosan yang kami temukan sejak empat tahun lalu dan tetap akan kami pakai pada UN 2010 ini, dimana nilai minimal naik menjadi 5,50 dan pelaksanaannya juga maju dibulan Maret. Banyak materi yang tidak sempat disampaikan karna banyaknya hari libur dan belum meratanya kwalitas. Masalah klasik yang dirasakan hampir semua sekolah menjelang UN.
"pemerintah hanya membuat ketentuan tanpa peduli dengan cara kita melaksanakannya. Jadi mari kita siasati" ajakku kepada dua guru yang ada di depanku.
"iya, toh dengan itu kita dapat prestasi yang luar biasa" salah satu dari mereka menimpali, disambut gelak tawa oleh sebelahnya, aku juga. Kita semua terbahak-bahak seolah tanpa beban padahal UN tinggal tiga hari lagi. Sampai-sampai kita tidak menyadari kalau guru Matematika belum juga datang. Padahal sudah tiga jam dia telat dari jadwal pertemuan. Tiga hari menjelang UN, kita memang selalu mengadakan pertemuan ini untuk pememantapan rencana. Termasuk membagi uang pulsa yang diambil dari sekolah
"pak, Bu Aida kecelakaan, jenazahnya sudah dibawa ke RSUD" Pak bon, penjaga SMK ini melaporkan telepon yang baru saja diterima. Membuat kami bertiga shok
"kita lanjutkan ini besok" kututup pertemuan sore itu. Sabtu pagi aku datang ke sekolah. Dua Guru sudah menunggu di sana
"UN tinggal dua hari lagi, apa ide kalian?" tanyaku panik
"bagaimana kalau kita mengambil lembar soal lalu mendiskusikan bersama anak-anak" usul salah satu dari mereka
"lembar soal akan tiba di kantor dinas pendidikan malam ini" tambahnya meyakinkan. Aku bimbang. Menyetujui usul tersebut dengan segala resikonya atau nekad menghadapi UN dengan kemampuan seadanya
"oh, tahun 2005 akan terulang" desahku gelisah. "baiklah nanti malam saya coba melobi orang-orang Dindik, kalau dapat, kita bahas soal-soal di rumah saya" ucapku ragu menutup pertemuan pagi itu.
Tengah malam aku berangkat dengan beberapa amlop tebal
"semua ini demi reputasiku dan SMK ini" aku menarik nafas dalam-dalam dan berusaha meyakinkan diri
"Dewa? Jadi dia yang bertugas menjaga soal!" gumanku penuh khawatir ketika kulihat Dewa di depan kantor dindik
"malam pak Dewa?" kudengar sayup-sayup seseorang menyapanya dari dalam gedung. Ternyata Kadindik juga ada didalam. Aku semakin pesimis dengan rencana ini. Menyuap mereka sama dengan bunuh diri. Reputasiku bisa hancur bahkan sebelum UN digelar
"kok keluar, mau kemana pak?" tanya seseorang ketika aku memutuskan pulang saja. Dia datang bersama beberapa orang yang nampaknya seperti guru. Belum sempat aku menjawab, Kadindik keluar bersama Dewa, membuat aku panik
"terlanjur basah" hiburku dalam hati mencoba menenangkan diri
"mari bicara didalam saja" Kadindik itu menarik tanganku. Aku juga bingung memikirkan cara menyuapnya
"ini semua demi nama baik Kota kita dan seluruh sekolah yang ada di dalamnya" kata Kadindik sambil duduk mendekatiku. Aku semakin bingung memulai melakukannya, sementara amplop yang aku bawa nampaknya tidak cukup untuk mereka semua
"apa untuk Kadindik saja" pikirku biar jadi besar jumlahnya
"masing-masing Kasek akan mendapatkan tiga lembar soal berikut kuncinya" sambung Kadindik menatap tajam mataku seperti menyampaikan isarat. Tangannya lalu menyodorkan amplop tebal dan menggenggamkannya erat ke tanganku. Aku kaget dan baru menyadari semuanya. Dini hari aku pulang dengan tiga lembar soal, amplop yang lebih tebal dan senyum sombong di sudut bibirku
_
"inilah kota kecil dengan prestasi yang luar biasa" suara Presiden dalam pidatonya penuh rasa bangga '?'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar