Selamat datang di website resmi Sego Pecel Cakdoell, Kamu bisa pesan makanan di sini atau sekedar berselancar untuk menukar wawasan. Gratis pesan antar untuk area Sembung, Kekeran, Pekilen, Binong, Sayan, Denkayu, Blayu dan sekitarnya. Selamat menikmati!

Kamis, 08 April 2010

Ujian Nasional

Aku adalah seorang kepala SMK di kota kecil dekat Bali. Meskipun kecil, kota ini mempunyai prestasi yang luar biasa di bidang pendidikan, itu karna sejak di tetapkannya nilai minimal kelulusan pada Ujian Nasional atau UN, kota ini selalu mampu meluluskan siswanya 100%. Kecuali pada tahun 2005, dua orang siswa gagal melampau nilai minimal 4.00 pada bidang studi Matematika
"tahun ini kita terlena dan gagal menjadi yang terbaik, tidak ada sanksi bagi kepala sekolah yang bersangkutan, tapi secara moral selayaknya dia tahu diri" kata kepala dinas pendidikan dalam pidatonya saat pertemuan untuk mengevaluasi hasil UN 2005 kota ini. Pertemuan itu diikuti oleh seluruh kepala sekolah dari SMU dan SMK baik negeri maupun swasta. Tapi bagiku pertemuan itu lebih merupakan pengadilan batin yang menyakitkan
"namanya saja yang unggulan tapi kwalitasnya rendah" ujar salah seorang kepala sekolah swasta menyindir
"iya, cuma gara-gara dua murid sekolahnya, kota kita gagal menjadi yang terbaik untuk ketiga kalinya" ucap kepala sekolah yang lain menimpali
"percuma dapat anggaran besar dari ABPD kalau masih kalah dengan sekolah swasta" entah dari manalagi datangnya suara yang terakhir, saat itu aku hanya ingin pertemuan segera berakhir lalu pergi meninggalkan mereka semua.
Merasa tertekan aku lalu mengundurkan diri dari SMKN 2 Kota ini. Tahun ajaran berikutnya aku sudah menjabat sebagai kepala SMK swasta tempatku sekarang. Terbuang dari SMKN dan dipercaya menjabat Kepala Sekolah disini merupakan tantangan bagiku. SMK ini memang sukses meluluskan siswanya 100% dalam tiga kali UN, tapi nilai rata-rata mereka sangat kritis dan tentu saja jauh di bawah sekolah-sekolah lain di kota ini. Di sinilah tekadku, aku akan membuat orang-orang yang selama ini tidak pernah menghargai dedikasiku di dunia pendidikan, akan mengakui bahwa akulah yang terbaik. Terutama Kepala dinas pendidikan kota ini yang telah menekan saya untuk meninggalkan SMKN 2, sekolah dimana aku mengabdikan diri selama ini. Sebagai langkah awal, aku mengundang guru-guru dari tiga bidang study utama UN. Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
"tahun ini, selain nilai minimal yang dinaikkan, pelaksanaanya juga dimajukan ke bulan April" ucapku mengawali pertemuan itu
"maaf pak, melihat nilai pada UN sebelumnya, rasanya kita berat melampaui batas minimal tahun ini" kata guru Bahasa Indonesia
"iya pak, apalagi dengan waktu yang lebih sedikit" guru Bahasa Inggris mendukung"
"semangat belajar anak-anak sering terganggu dengan banyaknya hari libur disini, saya khawatir mereka tidak menerima materi yang cukup untuk mengikuti UN" keluh guru Matematika dengan penuh rasa khawatir
"kita harus mencari terobosan baru untuk bisa lulus 100%, kalau perlu dengan nilai tertinggi" aku tutup pertemuan itu penuh semangat.
_
Tahun 2006 hampir semua kepala sekolah di kota ini memberi ucapan selamat kepadaku karna SMK ini mendapat nilai rata-rata tertinggi untuk katagori swasta. Tentu saja kecuali kepala SMKN 2. Dia tidak memberi ucapan selamat, karna nilai nilai rata-rata siswa-siswi saya masih di bawah SMKN 2 yang dipimpinnya
"hebat, tapi takkan pernah bisa menjadi nomer satu di kota ini" bisiknya mengejek waktu sama-sama keluar dari gedung dinas pendidikan kota, tempat diadakannya evaluasi hasil UN setiap tahunnya. Tapi hal itu cuma terjadi sakali karna tahun berikutnya dia harus mendatangiku di atas podium, mengantri untuk mengulurkan tangan, mengucapkan selamat
"sepatutnya kita bisa mencontoh beliau, dengan anggaran dan fasilitas yang terbatas, beliau mampu menjadikan SMK yang di pimpinnya terbaik di kota ini, dan membawa kota kebanggaan kita masuk ke dalam jajaran elit kota berprestasi di Indonesia" sambutan kepala dinas pendidikan berapi-api. Tepuk tangan pun membahana, bergemuruh memenuhi gedung yang dua tahun lalu menjadi tempat pengadilan batin bagi saya
"semua ini berkat guru-guru kami yang sabar dan siswa-siswi kami yang memang berprestasi" kalimatku menyambut seluruh ucapan selamat. Tiga kali sudah aku menyampaikan sambutan yang sama berturut-turut. Pada tahun 2008 lebih semangat lagi karna ada kepala dinas pendidikan propinsi. Yang paling spesial tahun kemaren karma menteri pendidikan pun berkenan hadir memberi ucapan selamat.
"bangga?" pertanyaan kecil selalu muncul dalam hati yang ternyata mendorongku untuk menggelengkan kepala. SMK ini memang membanggakan, aku juga seharusnya bangga telah mendapat pengakuan dari semua orang. Tapi siapa yang bisa bangga kalau semua ini aku dapatkan dengan melakukan kecurangan
"semua jawaban sudah terekap, akan saya sms sekarang juga pak" dengan suara lirih guru matematika itu menelepon, aku langsung bersiap menerima jawaban dan mendistribusikannya. Itu adalah terobosan yang kami buat empat tahun lalu dan selalu kami lakukan saat UN digelar di tahun-tahun berikutnya. Begitu pula tahun 2010 ini. Nilai minimal naik menjadi 5,50 dan pelaksanaannya juga maju dibulan Maret. Banyak materi yang tidak sempat disampaikan karna banyaknya hari libur. Bahkan beberapa minggu sebelum hari H, semua sekolah harus libur dua minggu untuk menghormati hari raya keagamaan. Ini adalah masalah klasik menjelang UN. Bukan SMK ini saja, tapi dirasakan hampir semua sekolah di kota ini. Bahkan bisa jadi juga di kota-kota lain
"pemerintah hanya membuat ketentuan tanpa peduli dengan cara kita melaksanakannya. Jadi mari kita lakukan seperti UN-UN sebelumnya" ajakku kepada dua guru yang ada di depanku.
"iya, toh dengan itu kita dapat prestasi yang luar biasa" salah satu dari mereka menimpali, disambut gelak tawa oleh sebelahnya. Saya juga ikut tertawa. Kita semua terbahak-bahak seolah tanpa beban meski UN tinggal tiga hari lagi. Sampai-sampai kita tidak menyadari kalau guru Matematika belum juga datang. Padahal dia sudah telat tiga jam dari jadwal pertemuan. Tiga hari menjelang UN, kita memang selalu mengadakan pertemuan untuk memantapkan rencana. Termasuk membagi uang pulsa yang diambil dari sekolah
"pak, Bu Aida kecelakaan" Pak bon, penjaga SMK ini melaporkan telepon yang baru saja diterima. Kami bertiga terperanjat kaget mendengarnya
"jenazahnya sudah dibawa ke RSUD" imbuhnya. Kami bertiga shok. Guru Matematika andalan SMK ini telah tiada
"sekarang kita ke RSUD dulu, besok jam tujuh kembali berkumpul di sini" kututup pertemuan sore itu lalu kita meluncur ke kediaman alhmarhumah. Besoknya, hari sabtu aku datang ke sekolah pagi-pagi. Di sana sudah menunggu dua guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
"SMK kita dalam masalah besar jika tidak menemukan guru pengganti" ucapku panik
"mustahil pak mendapatkannya dalam waktu singkat, apalagi kalau untuk kepentingan UN yang tinggal dua hari lagi" ujar salah satu dari mereka menambah kepanikanku
"bagaimana kalau kita mengambil lembar soal lalu mendiskusikan bersama anak-anak" usul yang lain
"kalau sesuai rencana, lembar soal akan tiba di dinas pendidikan malam ini" tambahnya meyakinkan. Saya sendiri sangat bimbang. Kalaupun menyetujui usul tersebut, terus siapa yang akan mengambilnya? Kalau sampai kepergok resikonya akan sangat fatal bagi SMK ini
"jika tidak menemukan jalan keluar hari ini, kejadian tahun 2005 pasti akan terulang tahun ini" ucapku dalam hati. Namun aku mencoba tenang dan tetap berpikir realistis
"baiklah nanti malam saya sendiri yang akan melobi orang-orang dinas pendidikan" ucapku mantap
"besok siapkan anak-anak yang unggul di Matematika untuk membahas soal di rumah saya" intruksiku menutup pertemuan pagi itu. Begitu malam tiba aku segera berkemas. Tidak lupa aku bawa beberapa amlop untuk oknum-oknum di dinas pendidikan. Ini adalah perbuatan nekad "semua ini demi reputasi dan SMK yang aku pimpin" aku menarik nafas dalam-dalam dan berusaha meyakinkan diri sendiri.
Setibanya di depan gedung dinas pendidikan aku melihat beberapa pegawainya sedang merapikan sesuatu, mungkin itu adalah soal-soal yang baru saja datang. Nampak juga beberapa anggota polisi mengawal ketat. Aku memilih menunggu di tepi jalan sampai sebagian dari mereka pergi agar amplop di tanganku cukup untuk mereka. Tengah malam ketika suasana terasa memungkinkan, akupun memutuskan untuk beraksi. Namun belum sempat mobil ini nyala, suara klakson menyeruak keras dari belakang
"sial!!" umpatku kaget setelah sebuah mobil yang nampak tidak asing memotong masuk kehalaman kantor itu
"Dewa? Jadi dia juga bertugas menjaga soal-soal!" gumanku penuh khawatir. Dewa adalah kepala SMKN 2, bagaimana mungkin aku bisa menyuapnya
"selamat malam pak?" kudengar sayup-sayup seseorang menyapanya dari dalam gedung. Ternyata kepala dinas pendidikan ada didalam. Aku semakin pesimis dengan rencana ini. Aku lalu memutuskan untuk pulang dan menyerah, pasrah dengan apapun hasil UN nanti. Di sepenjang jalan aku terus berpikir tentang nasib buruk yang akan terjadi padaku tahun ini. Rasa malu dan kerendahan yang tak bisa aku bayangkan
"sama-sama beresiko, mending aku coba dulu" gumanku ragu sambil menambah jumlah amplop yang aku siapkan. Seketika itu pula aku langsung memutar arah kembali ke kantor dinas pendidikan.
Di sana sudah ada beberapa kepala sekolah swasta yang tadi belum datang
"selamat malam pak" sambut salah satu dari mereka. Belum sempat aku balas sambutannya, kepala dinas pendidikan muncul dari dalam bersama Pak Dewa
"kita sedang memonitor distribusi soal-soal UN" ucapnya terbata-bata penuh ketegangan dan basa-basi. Nampak pula rasa takut di raut mukanya. Dia memang kepala SMKN 2 tapi di dunia pendidikan aku adalah seniornya. Aku sendiri gemetar dan terus berpikir bagaimana bisa mendapatkan selembar soal. Amplop yang aku bawa nampaknya masih kurang dengan jumlah mereka yang ada disini
"mari bicara didalam saja pak" kepala dinas itu menarik tanganku, bersama pak Dewa dan satu kepala sekolah lain, kita berempat bicara di tempat tertutup
"begini saja pak, ini semua demi nama baik kota kita dan seluruh sekolah yang ada di dalamnya" kata pak kepala dinas sambil duduk mendekatiku. Aku cuma diam sambil memikirkan bagaimana cara memulai menyuap
"apa semua untuk kepala dinas saja" pikirku biar besar jumlahnya
"masing-masing kepala sekolah akan mendapatkan tiga lembar soal dari tiga mata pelajaran beserta kuncinya" sambung kepala dinas sambil menatap tajam mataku. Tangannya lalu menyodorkan amplop tebal dan menggenggamkannya erat ke tanganku. Aku kaget dan baru menyadari semuanya. Dini hari aku pulang dengan tiga lembar soal, amplop yang lebih tebal dan senyum simpul penuh kepuasan disudut bibirku.
_
"inilah kota kecil dengan prestasi yang luar biasa" suara Presiden dalam pidatonya penuh rasa bangga '?'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar