Selamat datang di website resmi Sego Pecel Cakdoell, Kamu bisa pesan makanan di sini atau sekedar berselancar untuk menukar wawasan. Gratis pesan antar untuk area Sembung, Kekeran, Pekilen, Binong, Sayan, Denkayu, Blayu dan sekitarnya. Selamat menikmati!

Minggu, 04 April 2010

Panji Dan Galuh I

Panji sedang kebingungan mencari kelinci yang baru saja dipanahnya. Namun tiba-tiba dia dikejutkan oleh teriakan seorang wanita
"kurang ajar! Kamu mengintipku ya!" Teriak Galuh sambil menyembunyikan tubuhnya di balik batu
"maaf, aku cuma mau mengambil hasil tangkapanku" Ucap Panji sambil menunjuk seekor kelinci yang hanyut ke arah Galuh.
"ni ambil! Udah sana pergi!" Usir Galuh sambil melemparkan kelinci. Panji pun pergi setelah mendapatkan kelincinya. Tak lupa dia lemparkan baju Galuh agar segera dikenakan. Diam-diam Panji begitu menikmati kemolekan yang baru saja dilihatnya. Sementara Galuh hanya bisa terdiam menahan malu meski jantungnya berdetak kencang tiba-tiba. Ada getaran diantara mereka. _
Di penginapan yang mulai menyalakan damar itu, dua saudagar sedang membahas rute perjalanan dengan Sapto, prajurit bayaran yang bertanggung jawab atas keamanan mereka.
"ini adalah penginapan terakhir sebelum kita melewati hutan Tegal Bubat. Perjalanan berlanjut besok saat fajar terbit dan semoga kita bisa sampai di desa terdekat sebelum matahari terbenam" Terang Sapto yang juga menjelaskan bahwa Tegal Bubat adalah hutan rawan perompak karena letaknya berada di perbatasan Tegal yang masuk wilayah Pajajaran dan Bubat di bawah kontrol Majapahit
"jadi kita akan melaluinya siang hari" Sapto belum berniat mengakhiri rapat ketika merasa ada suara mencurigakan yang nampak mengintai. Diapun bergegas memeriksa keluar
"ternyata kamu Panji! Ayah cari-cari dari tadi, dari mana saja kamu?"
"ini yah, Panji dapat makan malam spesial" jawabnya sambil masuk membawa kelinci yang baru saja ditangkapnya.
_
Sementara itu di tengah hutan nampak seorang gadis berjalan menuju pondokan dengan tiga orang berbincang serius di dalamnya
"semua sepuluh orang, terdiri dari dua pasang suami istri dengan satu prajurit kepala, lima lagi menjaga barang-barang niaga. Mereka akan berangkat saat fajar jadi kita bisa menyerangnya di sisi Tegal. Saya rasa, udara masih gelap saat mereka sampai pada lokasi aman untuk penyerangan" Jelas Samba yang tadi melakukan pengintaian.
"bagaimana menurutmu Gotawa?" Tanya Arya kepada adiknya
"mereka punya lima prajurit dan satu prajurit kepala. Menurutku, sebaiknya kita menyerang di sisi Bubat saja. Kita kalah jumlah, jadi kita manfaatkan kelelahannya. Lagi pula malam sudah datang sebelum mereka sampai di desa terdekat" usul Gotawa
"maaf Gotawa, bukankah Tegal masuk wilayah Majapahit. Sangat beresiko kalau aksi kita tercium divisi intelijen mereka. Majapahit pasti akan memburu siapapun yang membuat onar di wilayahnya, tentaranya sanggup membabat habis hutan ini" Samba mempertahankan pendapatnya.
"Ayah, Paman Samba benar, tapi Galuh lebih setuju dengan pendapat Paman Gotawa. Kalaupun terjadi resiko terburuk, tentara Majapahit akan berpikir ulang untuk memburu karena rumah kita masuk wilayah Pasundan" Ujar Galuh sambil menghidangkan buah-buahan yang baru saja didapatkanya
"baiklah kita berangkat malam ini" Arya menutup pembicaraan malam itu dan langsung berkemas menuju Bubat
"besok kita punya waktu sepanjang hari untuk mempersiapkan penyerangan. Galuh, bapak minta kamu jaga diri baik-baik ya di rumah" Galuh mengangguk meski sebenarnya dia ingin sekali saja bergabung dalam operasi.
_
Pagi itu Galuh bangun lebih awal dari biasanya. Entah kenapa dia merasa gelisah. Dalam benaknya tak henti-henti memikirkan ayah dan kedua pamannya
"aku harus menyusul mereka" tekadnya dalam hati. Galuh kemudian memacu kudanya dengan kencang menuju Bubat. Jejak rombongan saudagar itu mempercepat perjalanannya. Dan ketika malam mulai datang Galuh telah sampai pada sisi Bubat hutan Tegal Bubat
"ayah!" Galuh melompat dari kudanya, menghunus pedang, menyambar seorang pemuda yang sedang mengayunkan pedang ke tubuh ayahnya yang terpojok. Duel pun terjadi dan pemuda itu terpukul mundur. Namun Galuh terlena saat menatap wajah pemuda itu. Pikirannya melayang jauh ke sungai tempat dia mandi kemaren sore. Panji mengambil peluang itu untuk bangkit dan menyerang balik. Pedangnya berhasil membuka cadar yang menutupi wajah Galuh. Panji pun sadar bahwa dia sedang melawan gadis yang kemaren dipergokinya sedang mandi. Lama mereka saling mendorong, terdiam
"Galuh, ayo kabur" ayahnya memberi aba-aba
"nama yang cantik seperti orangnya" Panji berbisik menggoda
"jangan biarkan mereka lolos Panji"
"oh jadi kamu yang namanya Panji" cibir Galuh lirih sambil melepaskan tendangan. Dia kabur bersama ayah dan kedua pamannya
"pemuda itu begitu hebat. Aku tidak melihatnya di penginapan kemaren"
"sudahlah, ini kita jadikan pelajaran. Kalian semua baik-baik sajakan?"
"luka ayah sendiri bagaimana?"
"untung kamu datang anakku"
"apa yang mendorongmu ke tempat pertempuran Galuh?" tanya Gotawa sambil memegangi kakaknya yang terluka. Mereka berempat terus memacu kuda menembus belantara.
_
"kalian tinggal disini saja dulu sambil menunggu pasukan Majapahit datang" Kepala desa itu menampung rombongan untuk beristirahat. Dia telah mengirimkan utusan ke Majapahit untuk melaporkan perampokan di wilayahnya. Teliksandi pun disebar dan persembunyian tiga perampok bersaudara itu akhirnya terendus.
"aku akan bergabung dengan tentara Majapahit untuk merebut kembali barang-barang yang mereka ambil" kata Panji yang sebenarnya lebih karna keinginannya bertemu Galuh.
Pasukanpun berangkat. Tiga perampok bersauda berhasil dilumpuhkan. Mereka tidak menduga penyergapan itu. Mereka tidak mengetahui kalau Pajajaran sedang bernegosiasi dengan Majapahit.
"jangan ceroboh! Pasukan Majapahit adalah yang terkuat di seluruh nusantara. Bunuh diri kalau nekat menyelematkan ayah dan paman-pamanmu sekarang!" ujar Panji yang membawa kabur Galuh. Menyelamatkannya dari cengkraman pasukan Majapahit.
"percuma kamu menyelamatkan aku, sementara aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan mereka" Galuh merasa bersalah dengan tertangkapnya ayah dan kedua pamannya.
"kita cari tempat yang aman dulu, kita bisa menyusun setrategi melepaskan mereka" ujar Panji menghibur
_
"dimana anakku? Panji! Panji!" Sapto memangil-mangil anaknya.
"o jadi anda bapaknya?" tegur pimpinan pasukan yang datang membawa tiga tawanan.
"anda harus ikut ke Trowulan karna anak anda telah melarikan salah satu tawanan kami"
Sapto heran dengan kelakuan anaknya tapi dia harus tetap menuruti perintah pimpinan tadi, karna pendekar paling saktipun takkan mampu melawan pasukan Majapahit yang terkenal kuat dan terlatih.
Akhirnya mereka berempat dibawa ke ibukota kerajaan dan diadili. Ketiganya divonis gantung. Sementara Sapto dibebaskan karna tidak terbukti bersalah. Beritapun tersebar sampai kepada Panji dan Galuh. Keduanya merencanakan operasi pembebasan sebelum eksekusi yang akan dilaksanakan di alun-alun kota saat purnama
"masih ada enam hari untuk mematangkan semuanya" ujar Galuh yang tak bisa membayangkan kalau rencana satu-satunya ini nantinya gagal
"penjagaan pasti akan sangat ketat" Suaranya terdengar berat
"kita harus yakin. Kita pasti berhasil" Panji memberi semangat.
_
"jaga ayahmu Galuh! Selamatkan diri kalian! Aku akan menahan mereka" teriak Gotawa sambil menghalau pasukan yang datang. Dengan Samba, dia berusaha melawan pasukan yang semakin banyak. Mereka berdua gugur dengan gagah dan berhasil menyelamatkan saudara dan keponakannya
"kita harus cari tempat untuk mengobati luka ayah, kita tak bisa ke rumah penduduk, pasukan kerajaan pasti terus mencari kita"
"Galuh, kenapa kamu bersama dia?" tanya Ayahnya sambil melirik Panji
"Galuh mencintainya ayah. Dia telah menyelamatkan hidup kita"
"iya pak, kami saling mencintai" ucap Panji meyakinkan
"melihat latar belakang kalian yang sangat berbeda, lebih baik urungkan cinta kalian sebelum cinta itu jauh lebih dalam menusuk hati kalian. Lukanya tidak akan pernah tersembuhkan"
"ayah, kami mohon restumu" pinta Galuh memelas. Belum sempat Ayahnya menjawab, beberapa anak panah menghujam lalu diikuti pasukan yang datang menyergap. Ayah Galuh yang masih terluka parah pun tewas dalam penyergapan itu.
"ayah...!!" Galuh histeris sementara Panji terus menariknya berlari.
_
"ayah, ibuk, panji pulang" Suami istri yang sedang makan malam itu terperanjat kaget. Enam bulan mereka menunggu anaknya pulang. Gayatri menyambut anaknya dengan pelukan erat sementara Sapto lebih tertarik mengamati wanita yang datang bersama Panji
"rupanya ada juga iblis yang suka mempengaruhi seorang anak sehingga meninggalkan ayahnya?" sindir Sapto tajam
"perbuatanmu membuat ayah digelandang ke Trowulan layaknya seorang perampok. Diadili di pengadilan tinggi Majapahit bersama begundal-begundal laknat. Bisa-bisanya sekarang kamu pulang dengan salah satu dari mereka" sambung Sapto lantang
"reputasi ayah tercemar, menghancurkan karir yang sudah ayah rintis dari nol di Pajajaran" Sapto menyandarkan keningnya pada salah satu tiang rumahnya. Kekecewaannya begitu berat, hingga enam bulan berlalu belum juga bisa melupakan
"maafkan panji ayah, bukan..."
"diam! Maaf yang tulus bukan keluar dari mulut. Usir iblis itu dulu baru ayah akan menganggap kamu telah menyesali semuanya"
Emosi Sapto semakin tinggi. Sementra istrinya hanya bisa menagis, berusaha tegar dan terus membujuk suaminya agar lebih sabar
"tidak bisa gayatri, sekarang biar dia putuskan, memilih anak perampok itu atau kembali bersama kita sebagai orang tuanya"
"terserah apa kata bapak. Alasan apapun takkan bisa merubah pandangan bapak terhadap keluarga saya. Tapi mulai sekarang bapak harus tau bahwa keluarga saya tak serendah yang bapak pikir" Galuh angkat bicara. Dengan berapi-api dia mempertahankan harga dirinya. Dilepaslah tangan Panji yang dari tadi menggandeng, dia mohon diri
"Galuh, tunggu aku"
"Panji.. Jangan tinggalkan ibu lagi nak" Gayatri meronta ingin menyusul anaknya tapi Sapto menghalangi.
"biarkan dia memilih kehidupannya" Sapto menenangkan istrinya.
_
Panji telah memutuskan. Galuh menjadikanya sebagai belahan jiwa. Panji dan Galuh selanjutnya menjalani hidup bahagia. Mereka menuju timur untuk menemukan sorga pada dunianya. Cobaan akan membentang di hadapan mereka. Sepanjang jalan yang mereka lalui
"hidup sesungguhnya baru saja dimulai" Tiupan angin mengirimkan pesannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar