Selamat datang di website resmi Sego Pecel Cakdoell, Kamu bisa pesan makanan di sini atau sekedar berselancar untuk menukar wawasan. Gratis pesan antar untuk area Sembung, Kekeran, Pekilen, Binong, Sayan, Denkayu, Blayu dan sekitarnya. Selamat menikmati!

Sabtu, 03 April 2010

Menempuh Lara

Hujan deras nampaknya baru saja mengguyur desa terpencil ini. Kabut sore dan genangan air di sana-sini yang memberitahuku. Menambah rasa berat hati ini untuk keluar dari mobil. Yah, sejak berangkat dari Jogja tadi pagi hatiku memang mulai terasa berat. Dan semakin berat ketika mobilku sudah berhenti di depan rumahnya. Jauh di dalam rumah itu nampak dua orang yang sedang bercengkrama
"Itu pasti Shohib, tapi siapa yang satunya?" Ini adalah rasa penasaran yang baru muncul, sebelumnya banyak sekali rasa penasaranku tentang Shohib yang muncul selama tujuh tahun terakhir. Memang, setelah dia meninggalkan kampus dulu, tak ada yang bisa kudengar tentangnya kecuali kabar-kabar burung, membuat aku harus menumpuk banyak tanya. Itu karna kepergiannya sangat mendadak dan meninggalkan banyak masalah denganku. Perpisahan kami memang tidak semanis pertemuannya. Dimana dia berhasil membuat aku bangga pada pandangan pertama
"aku melihat kamu sedang memaparkan program kerja kepada tim menjelang peresmian kampus barat tahun lalu, aku adalah salah satu yang mendengarkannya dengan kekaguman mendalam, aku tertarik lalu bertekad untuk lebih dekat denganmu. Aku harus menjadi sahabatmu" Ceritanya sejenak setelah memperkenalkan diri.
"kalau gak salah kamu juga pakai topi itu" Ujarnya menutup cerita malam itu.
Jujur aku sangat tersanjung mendengarnya. Betapa tidak, orang baru, yang masuk melalui jalur multi talenta seperti Shohib tertarik untuk menjadi sahabatku. Bahkan dia masih ingat dengan topi yang aku pakai
"hmm, sebenarnya bukan ini topinya, kombinasi warnanya beda, tapi memang motifnya sama" Kataku dalam hati.
"kok senyum, ada yang lucu?" Shohib bertanya, mungkin karna tak terasa senyum kecilku keluar dari hati.
Aku terbuai oleh kata-katanya. Dia memang nampak berbakat, intonasinya bagus dan berwawasan luas.
"oke, aku cabut dulu ya" Pamitku sambil beranjak.
"kok buru-buru? Belum puas rasanya kita ngobrol" Basa-basinya menahanku.
"hati-hati ya, jangan lupa besok aku tunggu di tempat yang sama" Dia mengingatkan sekali lagi setelah mengantarku sampai gerbang depan.
Begitulah kami memang sering bertemu di tempat yang sama. Di serambi kampus timur. Kita bertemu rame-rame dengan teman-teman yang lain juga, tapi lebih sering berdua. Diskusi tentang hal-hal serius sampai yang ringan, bahkan terkadang masuk wilayah pribadi.
"aku tau semua alasan kepergian Icun dari kampus ini.. Dia cerita semuanya" Aku kaget mendengar kata-kata Shohib itu. Icun adalah orang yang sangat aku cintai. Ini adalah bulan kedua kepergiannya ke kampung halaman di Bandar Lampung.
"bukankah dia pergi karna sakit mata yang dideritanya?" Tegasku meyakinkan seperti yang ditulis dalam surat pamitnya kepadaku.
"dia punya banyak masalah. Sebagai sahabat karibnya aku kira kamu sudah tau masalah dia" Ujarnya sambil menatapku. Aku hanya bergeleng kecil.
"ayo ke kamar Icun, aku tunjukan sesuatu" Shohib beranjak sambil menarik tanganku. Aku hanya bisa menurut saja, aku bener-bener penasaran.
"Shohib bahkan punya kunci kamar Icun" Ucapku dalam hati. Belum reda keheranan ini, dia sudah membuatku terkaget-kaget ketika banyak hal tentang Icun yang dia ceritakan. Nampak olehku dia begitu dekat dengan Icun.
"Icun juga cerita tentang hubungan yang kalian..."
"tunggu Hib,!!" Aku memotong kalimat terakhirnya.
"Hib, sebaiknya kita tidak bahas apapun soal Icun, oke? Syukur kalau memang kamu tau semua masalahnya, tapi malam ini aku ingin mengakhiri semua perbincangan tentang dia" Lanjutku sembari bergegas meraih gagang pintu.
"aku pulang dulu ya?" Pamitku.
"lho ngapain pulang? Tidur sini aja. Kita berdua tidur di sini sambil melepas kangen pada Icun, siapa tau dia juga sedang kangen ma kita kan?" Usahanya menahanku sambil menarik tangan kiriku. Aku terdiam sejenak, berbagai pikiran berkecamuk dalam benakku. Jujur aku memang sangat merindukan Icun. Besok adalah genap setahun kepulangannya. Dan dari surat-suratnya, tetap, sakit mata adalah satu-satunya alasan kenapa dia pulang.
Akupun bersedia tidur di kamar Icun, tapi bukan karna paksaan Shohib aku melakukannya. Aku memang ingin melepas rindu pada Icun.
"dari mana Shohib tau tentang kerinduanku ini.. Oh, jangan-jangan..." Aku menggantung sendiri kalimat dalam hatiku. Aku berbaring lalu berusaha tidur.
"aku matikan lampunya ya" Pinta Shohib sambil meraih saklar, mematikannya lalu bergegas berbaring di sampingku. Kita berdua terdiam, sunyi, hening. Tapi tidak dengan pikiranku. Berbagai pertanyaan muncul di sana
"kenapa Shohib akhir-akhir ini? Taukah dia akan semua isi hatiku? Perhatiannya padaku sama seperti perhatianku pada Icun. Sikapnya padaku sama seperti sikapku pada Icun? Jangan-jangan perasaannya..." Sekali lagi aku gantung pertanyaan dalam hatiku. Aku mencoba rileks. Aku tarik nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan pelan-pelan.
Aku lirik Shohib sudah tertidur pulas. Sangat hening sampai-sampai suara detik jarum jam terdengar jelas mengiringi hembusan nafasku yang mulai teratur.
"gila..!! Ada apa dengan Shohib?!!" Kataku dalam hati ketika dikagetkan oleh tangannya yang menggerayangi bagian sensitifku. Aku mencoba bergerak agar dia tau kalau aku belum tidur lalu dia akan menarik tangannya. Tapi justru semakin aku bergerak, semakin semangat dia melakukannya. Akhirnya akupun pasrah karna jujur aku juga ingin melakukannya. Hanya satu yang mengganjal dalam hati
"kenapa bukan Icun yang melakukannya?"
_
Malam ini aku menunggu Shohib. Hhm, sejak kejadian tempo hari di kamar Icun, aku jadi yakin kalau peresaannya padaku sama seperti perasaanku pada Icun. Akupun berani terang-terangan memintanya datang ke rumahku yang memang dekat dengan kampus. Malam ini adalah yang ketiga kalinya dan aku ingin hubungan ini jelas.
"kalau Shohib bisa menerimaku, kenapa harus menunggu cinta Icun yang sudah nyata-nyata bertepuk sebelah tangan?" Yakinku dalam hati sesaat sebelum Shohib datang
"yakin nanti gak akan ada yang datang?" Ujar Shohib begitu masuk kamarku.
Namun aku merasa ada yang aneh dengan Shohib. Raut mukanya tegang dan nampak tidak bergairah. Sangat berbeda dengan dua kali kedatangan sebelumnya. Bahkan dia memindahkan tanganku yang aku lingkarkan di pinggangnya
"ada apasih dengan kamu Hib?!!" Tanyaku ketus.
"lepaskan pelukan ini dan kenakan lagi bajumu! Semua sudah berakhir!!" Teriaknya sambil beranjak dan melempar baju ke mukaku.
"asal kamu tau Doel, apa yang aku lakukan selama ini hanyalah untuk memancingmu. Aku curiga melihat keakrabanmu dengan Icun lalu aku mulai menyelidikinya. ternyata benar, kamu seorang..."
"Hib, kamu lupa ya dengan kejadian di kamar Icun dulu!? Kamu juga lupa kalau dua hari lalu, di ranjang ini kamu menjilati sekujur tubuhku!?" Aku potong ucapannya untuk mengingatkan kalau dialah yang memulai semuanya
"kamu juga harus ingat kalau kamulah yang berusaha mendekatiku dulu, hingga aku jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu Hib! Kamu juga mencintaiku kan!?
"jangan gila Doel! Aku bukan gay seperti kamu!! Jawabnya sambil berlalu membanting pintu. Shohib meninggalkan aku sebelum sempat membalas kata-katanya.
_
"To Doel: Aku akan pulang, busnya berangkat jam 3. Aku minta maaf atas pertengkaran minggu lalu. Aku tau ini sangat berat bagimu. Ini adalah alamat rumahku. Aku harap kamu segera datang, kapanpun, setelah kamu bisa memaafkanku.
Temanmu:
Shohib"
Sepucuk surat pamit dari Shohib. Aku genggam erat di tangan. Basah oleh keringat dan air mata yang tiba-tiba berlinang.
Perlahan aku buka kembali kertas ini. Lusuh dan tulisan yang nyaris pudar membuat aku terhenti sejenak setelah turun dari mobil
//Rt.03 Rw.01 No.12 Ds. Wadas Kec. Kajuran Kab. Magelang//
"yah, ini memang rumahnya" Gumanku yakin setelah melihat nomor yang sama di pintu rumah yang aku tuju.
"wow!! Doel, datang juga kamu akhirnya.." Sangat antusias Shohib menyambutku, bahkan sebelum kakiku menginjak beranda rumahnya.
"mari masuk.." Ajaknya ramah sambil melingkarkan tangan kirinya ke pundakku.
"bagaimana kabarmu Doel? aku tau kamu sangat pemaaf. Jadi aku yakin kamu pasti datang. Tau gak, kedatanganmu pas banget. Ayo cepat, aku tunjukkan seseorang padamu" Shohib mengajakku bergegas menuju seseorang yang dari tadi nampak menunggu di depan pintu. Wajahnya tidak asing bagiku. "Coba kalau dia sedikit lebih kurus, terus tidak menyisakan kumis dan jambang pada cukurannya, pasti mirip banget dengan..."
"nih Icun" Shohib memotong gumanku dalam hati. Menjawab apa yang aku pikirkan! "sebulan setelah aku pulang dari Kediri, kami berdua pergi ke Belanda untuk meresmikan hubungan kami" Shohib melanjutkan kata-katanya seperti orang yang tak punya dosa.

1 komentar: