Selamat datang di website resmi Sego Pecel Cakdoell, Kamu bisa pesan makanan di sini atau sekedar berselancar untuk menukar wawasan. Gratis pesan antar untuk area Sembung, Kekeran, Pekilen, Binong, Sayan, Denkayu, Blayu dan sekitarnya. Selamat menikmati!

Selasa, 20 April 2010

Menempuh Lara (revisi)

Hujan deras baru saja mengguyur desa terpencil
ini. Genangan air di sana sini membuatku berat untuk turun dari mobil. Memang, Sejak berangkat dari Jogja, hatiku sudah mulai terasa berat, dan semakin berat ketika mobilku
berhenti di depan rumahnya
"Itu pasti Shohib" pikirku melihat dua orang sedang bercengkrama
"tapi siapa yang satunya?" Ini adalah rasa penasaran yang baru muncul, sebelumnya banyak sekali penasaran-penasaran lain yang belum terjawab sejak tujuh tahun terakhir. Kepergiannya yang sangat mendadak, meninggalkan banyak masalah denganku. Perpisahan kami memang tidak semanis saat bertemu, dimana aku terpesona pandangan pertama
"aku melihat kamu sedang memaparkan program kerja
kepada tim menjelang peresmian kampus barat tahun lalu, aku adalah salah satu yang mendengarkannya dengan kekaguman mendalam, aku tertarik lalu bertekad untuk lebih dekat denganmu. Aku harus menjadi sahabatmu" Cerita Shohib setelah kenalan
"kalau gak salah kamu juga
pakai topi itu" Ujarnya menutup cerita malam itu.
Jujur aku sangat tersanjung
mendengarnya. Baru kali ini ada yang antusias ingin menjadi sahabatku. Bahkan dia masih ingat dengan topi yang aku pakai meski sebenarnya bukan ini topinya
"kok senyum, ada yang lucu?" Shohib bertanya, aku jadi salah tingkah
"oke, aku cabut dulu ya"
Pamitku sambil beranjak
"kok buru-buru? Belum puas
rasanya kita ngobrol" basa-basinya menahanku
"hati-hati ya, jangan lupa besok aku tunggu di tempat yang sama" Dia mengingatkan sekali lagi setelah mengantarku sampai gerbang depan.
Begitulah kami memang sering
bertemu. Di serambi kampus timur. Dengan teman-teman yang lain juga, tapi lebih sering berdua. Diskusi tentang hal-hal serius sampai yang ringan, bahkan terkadang masuk wilayah pribadi.
"aku tau semua alasan kepulangan Icun" Shohib mengagetkanku dengan ucapannya. Icun adalah orang yang sangat aku cintai. Dan malam ini sudah masuk bulan kedua kepulangannya ke Bandar Lampung
"bukankah dia pulang karna sakit mata!" Kutegaskan seperti yang ditulis dalam surat pamitnya
"dia punya banyak masalah. Sebagai sahabat karibnya, aku kira kamu lebih tahu" Ujarnya sambil menatapku. Aku hanya bergeleng kecil
"ayo ke kamar Icun, aku tunjukan sesuatu" Shohib
beranjak sambil menarik tanganku. Aku hanya bisa
menurut saja, aku bener-bener
penasaran
"Shohib bahkan punya kunci kamar Icun" Guman hatiku penasaran. Belum reda keheranan ini, lagi-lagi dia membuatku kaget dengan banyak hal tentang Icun yang dia ceritakan
"Icun juga cerita tentang
hubungan kalian"
"tunggu Hib!" Aku memotong
kalimatnya
"sebaiknya aku pulang saja"
Lanjutku sembari bergegas meraih gagang pintu, aku takut perasaanku terbongkar
"lho ngapain pulang? Tidur sini
aja. Kita bisa melepas kangen dengan Icun yang mungkin juga lagi kangen pada kita kan?" Usahanya menahanku. Aku terdiam, berbagai pikiran berkecamuk dalam benak. Jujur, aku memang sangat
merindukan Icun
"dari mana Shohib tau tentang
kerinduanku ini? jangan-jangan..." Aku menggantung
sendiri kalimat hatiku
"aku matikan lampunya ya" pinta Shohib sambil meraih saklar. Suana menjadi sunyi, hening. Tapi tidak dengan pikiranku. Berbagai pertanyaan muncul disana
"kenapa Shohib akhir-akhir ini? Perhatiannya padaku seperti perhatianku pada
Icun. Sikapnya padaku seperti sikapku pada Icun? Apakah perasaannya..."
Sekali lagi aku gantung pertanyaan hatiku. Aku tarik nafas dalam-dalam dan berusaha rikeks, sampai suara jarum jam terdengar jelas mengiringi hembusan nafasku yang mulai teratur
"gila, Ada apa dengan Shohib!" Kata hatiku ketika dikagetkan oleh tangan yang meraba. Aku bergerak agar Shohib menarik tangannya dari dadaku. Tapi justru semakin aku bergerak, semakin semangat dia melakukannya.
Akhirnya aku pasrah karna jujur aku juga ingin melakukannya. Hanya satu yang janggal, kenapa bukan Icun pelakunya.
_
Malam ini aku menunggu Shohib. Sejak kejadian tempo hari di kamar Icun, aku menjadi yakin kalau perasaannya padaku pasti seperti perasaanku pada Icun. Akupun berani
terang-terangan memintanya datang ke rumah. Seperti Malam ini, sudah tiga kali kami melakukannya dan aku ingin hubungan ini jelas
"kalau Shohib bisa menerimaku, kenapa harus menunggu cinta dari Icun yang nyata-nyata bertepuk sebelah tangan?" yakin hatiku sesaat sebelum Shohib datang. Namun aku merasa ada yang
aneh dengan Shohib kali ini.Raut mukanya tegang dan nampak tidak bergairah. Sangat berbeda dengan dua kedatangan sebelumnya. Bahkan dia melepaskan tanganku yang melingkar di pinggangnya
"ada apasih dengan kamu say!" tanyaku berusah sabar
"lepaskan pelukan ini dan kenakan lagi bajumu Doel!" Teriaknya sambil menyodorkan
bajuku
"maaf Doel, apa yang aku lakukan selama ini hanyalah
untuk memancingmu. Aku curiga melihat keakrabanmu dengan Icun, lalu aku mulai
menyelidikinya. ternyata benar,
kamu seorang..."
"Hib, kamu lupa ya dengan kejadian di kamar Icun dulu? Kamu juga lupa apa yang kamu lakukan dua hari lalu di ranjang ini!" Aku potong ucapannya untuk mengingatkan
"kamu juga harus ingat kalau
kamulah yang berusaha
mendekatiku dulu, hingga aku jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu Hib! Kamu juga
mencintaiku kan!"
"jangan gila Doel! Aku bukan gay seperti kamu!" Jawabnya sambil berlalu membanting
pintu. Shohib meninggalkan aku bahkan sebelum sempat aku membalas kata-katanya.
_
//Untuk Doel: Ketika kamu baca surat ini, aku mungkin sudah jauh meninggalkan Kediri. Aku minta maaf atas pertengkaran minggu lalu. Aku tahu ini sangat berat bagimu. Ini adalah alamat rumahku. Aku harap kamu segera datang, kapanpun, setelah kamu bisa memaafkanku.
Temanmu:
Shohib//
Sepucuk surat pamit dari Shohib. Aku genggam erat di tangan. Basah oleh keringat dan air mata yang tiba-tiba berlinang. Perlahan aku buka kembali kertas ini. Lusuh dan tulisan yang nyaris pudar membuat langkahku terhenti sejenak.
//Rt.103 Rw.101 No.512 Ds. Wadas Kec. Kajuran Kab. Magelang//
"yah, ini memang rumahnya"
Gumanku yakin setelah melihat
nomor yang sama di pintu rumah yang aku datangi
"wow! Doel, akhirnya kamu benar-benar datang" sangat antusias Shohib menyambutku, bahkan sebelum kakiku menginjak beranda rumahnya.
"mari masuk" Ajaknya ramah
sambil merangkulku.
"bagaimana kabarmu Doel? aku tau kamu sangat pemaaf. Jadi aku yakin kamu pasti datang. Kedatanganmu pas
banget. Ayo cepat, ada yang menunggumu" Shohib mengajakku bergegas menuju seseorang yang dari tadi berdiri di balik pintu. Wajahnya tidak asing bagiku
"Coba kalau dia sedikit lebih kurus, terus tidak menyisakan kumis dan jambang pada cukurannya, pasti mirip banget dengan..."
"nih Icun" Shohib memotong
guman hatiku. Menjawab apa yang aku pikirkan
"sebulan setelah aku pulang dari Kediri,
kami berdua pergi ke Belanda untuk meresmikan hubungan kami" Shohib melanjutkan kata-katanya seperti orang yang tak punya dosa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar