Selamat datang di website resmi Sego Pecel Cakdoell, Kamu bisa pesan makanan di sini atau sekedar berselancar untuk menukar wawasan. Gratis pesan antar untuk area Sembung, Kekeran, Pekilen, Binong, Sayan, Denkayu, Blayu dan sekitarnya. Selamat menikmati!

Sabtu, 17 April 2010

Bali Tersenyum

Percaya enggak sih kalau orang Bali itu ramahnya minta ampun? Bagi anda yang belum pernah tersesat di Bali mungkin akan berpikir biasa-biasa saja, tapi coba simak ceritaku berikut ini. Kisah nyata yang aku alami ketika tiga kali tersesat di jalanan Bali.
Tiga bulan setibanya aku di Mengwi, Badung, tempat aku tinggal dan bekerja di Bali, Anjar, temanku disana memintaku mengantarnya ke Denpasar. Sudah pasti aku pulangnya akan sendirian karna dia berencana menginap di rumah teman. Sebenarnya itu bukan perjalanan pertamaku kesana, tapi biasanya aku mengendarai mobil bersama banyak teman, jadi tidak konsentrasi ke jalan. Nah, saat itu selain mengendarai motor sendiri, perjalanan juga aku tempuh pada malam hari. Praktis aku bingung dan harus melewati jalan yang sama berulang-ulang. Tentu saja aku harus banyak bertanya. Disinilah aku pertamakali bertemu dengan orang yang sangat ramah yang belum pernah aku temui di tempat lain, bahkan di tempat aku dilahirkan. Dia menunjukan jalan yang aku cari dengan detail dan penuh perhatian. Total ada enam kali bertanya aku di perjalanan malam itu. Semuanya ramah, semuanya seoalah aku adalah saudaranya yang tidak boleh tersesat. Mereka sangat memperhatikanku.
Perjalanan kedua masih bersama Anjar. Siang itu aku sengaja menjemputnya di Kuta. Namun rencana berubah karna dia harus menemui temannya diminta tinggal untuk beberapa saat. Sementara aku yang harus berada di kantor lagi sebelum jam lima, tak bisa menunggu terlalu lama. Akhirnya akupun pulang sendiri dari Kuta. Sebenarnya aku sudah tau jalan kalau hanya dari Mengwi ke Kuta, tapi tidak sebaliknya. Mungkin karna kita sempat muter-muter di sana jadi aku bingung harus memulai dari mana perjalanan pulang ini. Awalnya kami berpisah di 'zero ground' Monumen Bom Bali di legian. Memang perjalanan kala itu tidak sesulit pulang dari Denpasar, tapi aku juga cukup banyak bertanya dijalanan. Salah satunya ketika sampai diperempatan Gatsu, aku bertanya saat lampu merah, dan seorang ibu-ibu muda dengan penuh keramahan menunjukkan jalan yang harus aku tempuh untuk sampai di Mengwi. Sungguh, keramahan semua orang yang aku tanyai benar-benar membuatku terkesima.
Kemudian perjalanan terakhir yang membuat aku tersesat (semoga tidak akan tersesat lagi) terjadi beberapa hari yang lalu. Yah meskipun sudah setahun lebih tinggal di Bali tapi tentu saja masih banyak tempat-tempat asing yang belum pernah aku kunjungi. Seperti Canggu, daerah pertanian di pelosok Badung yang mulai berubah menjadi kawasan elit dengan vila-vila mewah di atas tanahnya. Aku kesana bersama Ralf Stefan, teman dari Jerman yang juga memiliki vila disana. Awalnya kami bertemu di Kuta dan berangkat ke vilanya bersama-sama meskipun tidak satu kendaraan. Yah, dia bawa mobil sementara aku membuntutinya pakai motor dari belakang. Ternyata tempatnya cukup jauh sehingga ketika aku pulang, aku harus menempuh rute yang berbeda. Nah disinilah kebingungan berawal. Pertama aku bertanya pada seorang pedagang gorengan di suatu perempatan entah dimana, jawabannya begitu melegakan meskipun perjalananku terasa masih lama. Pertanyaan yang kedua aku ucapkan kepada seseorang yang sedang mencari rumput dipinggir jalan. Aku berniat mematikan dulu motorku supaya lebih sopat, tapi belum sempat aku melakukannya dia malah menyapaku lebih dulu, seoalah tau kesulitanku. Benar saja, ternyata aku telah mengambil jalur yang salah. Untung ketemu bapak-bapak itu. Kemudian pertanyaan terakir sebelum aku menemukan jalan yang aku kenal, aku tujukan kepada seorang bapak muda yang ada di warung. Dengan sangat ramah dia menunjukkan jalan, bahkan seakan mau mengantarku sampai jalan besar. Aku tentram banget mendengarkan petunjuknya. Aku tidak panik meskipun malam mulai menjelang. Memang sih aku juga bertanya dengan sopan tapi menurutku memang masayarakat Bali sangat ramah, peduli dan suka menolong.
Dari ketiga cerita tersesatnya aku di jalanan Bali, satu poin utama yang ingin aku tekankan adalah, betapa orang-orang Bali sangat mulya sifatnya. Anda yang tidak yakin atau menganggap biasa saja ceritaku, suatu waktu ketika punya masa luang, anda bisa mencoba menyesatkan diri di jalanan Bali, lalu cobalah bertanya ke sembarang orang yang anda temui, pasti anda akan mulai mengingat apa yang aku ceritakan ini.
Berita Keramahan orang Bali konon sudah tersebar ke penjuru dunia. Tapi aku baru merasakan sendiri setahun terakhir. Bahkan bukan hanya aku temui dijalanan, keramahan mereka juga aku rasakan setiap hari di tempat kerja.
Disini, di Taman Buaya dan Reptil Indonesia Jaya Bali, aku bekerja dengan lima orang asli Bali. Mereka adalah I Made Asa, I Made Sukatana, Ni Kadek Suarsih dan Ni Komang Pradnyowati. Kedua pertama adalah guide dan sisanya penjaga loket. Setahun lebih bekerjasama dengan mereka, tidak pernah ada percekcokan. Mereka memiliki rasa kebersamaan yang begitu tinggi. Solidaritas dan nasionalisme yang sangat membanggakan. Sampai terkadang aku merasa sungkan dengan kebaikan mereka. Mereka tak jarang mengingatkan aku setiap jumat tiba, padahal aku sendiri sering lupa menunaikannya.
Sekarang, aku bisa menyadari kenapa begitu banyak orang dari seluruh dunia berbondong-bondong menuju Bali. Ternyata memang, selain di sana ada keindahan alam yang luar biasa, Bali juga punya masyarakat yang luar biasa pula. Masyarakat yang siap mengucapkan selamat datang kepada semua yang datang.
Satu lagi yang menurutku hebat adalah, Bali tidak kehilangan budayanya meskipun gempuran budaya asing datang bertubi-tubi langsung dengan masyarakatnya. Banyak budaya dan gaya barat bisa kita lihat disana, tapi kita juga akan menyaksikan budaya Bali ditempat yang sama. Sungguh mengagumkan. Aku bersyukur bisa bekerja dan tinggal di Bali. Pulau dengan keindahan alam dan budaya yang luar biasa. Bagaimana dengan anda? Luangkan sedikit waktu dan kesibukan, lalu datanglah ke Bali dan nikmati kenyamanan sorga dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar