Selamat datang di website resmi Sego Pecel Cakdoell, Kamu bisa pesan makanan di sini atau sekedar berselancar untuk menukar wawasan. Gratis pesan antar untuk area Sembung, Kekeran, Pekilen, Binong, Sayan, Denkayu, Blayu dan sekitarnya. Selamat menikmati!

Jumat, 30 April 2010

Negeri Bedebah


Masih ingat puisi Andi Masardi? Terdengar provokatif memang, tapi menurutku itulah Indonesia sekarang. "Negri Bedebah" demikian judul puisi yang sering kita dengar di Metro TV akhir-akhir ini. Betapa tidak, hampir semua media mengabarkan betapa bobrok orang-orang yang mengelola negri ini. Bahkan Polri sebagai penegak hukum justru mendapat sorotan paling negativ. Benarkah Polri memang bobrok? Entahlah, aku hanya tidak habis pikir, kenapa Kapolri tidak meletakkan jabatannya saja. Sebagai rakyat biasa aku memang hanya mendapat informasi dari media. Lalu dari semua yang aku dengar, membuatku berpikir lebih bijaksana kalau Kapolri mengundurkan diri. Kenapa? Lihat headline surat kabar di atas. Kasus L/C itu begitu kental kesan politisnya. Belum lagi soal penanganan markus pajak dan lain-lain serta perilaku sebagian pejabatnya. Sungguh moral yang hilang atau muka yang terlalu tebal, sehingga yang dipentingkan adalah jabatan. Di negeri sana yang bukan bedebah. Pejabatnya, jangankan kepergok salah atau keliru berkali-kali, terindikasi saja sudah mengundurkan diri. Bahkan ada yang saking malunya, dia bunuh diri sebagai bentuk pertanggung jawaban.
Entahlah, aku cuma berpikir apakah ada tebang pilih dalam melakukan penegakan hukum? Di negri bedebah, di mana pejabatnya hidup mewah, sementara rakyatnya makan dari mengais sampah.
Photo by. Doell, 29/04 '10

Dilema Ujian Nasional


Hari senin tanggal 26 April 2010 aku membaca sebuah headline salah satu surat kabar terbesar di Bali. "154.079 siswa tak lulus UN" Demikian surat kabar itu memberitakan. Berita itu mengusik aku untuk menulis posting ini.
Dulu, saat pertama kali nilai minimal diterapkan dalam UN (Ujian Nasional), aku kebetulan menjadi pesertanya di tingkat SLTP. Saat itu aku dan teman-teman sekelas di genjot habis-habisan frekuensi belajarnya. Hal ini tentu sangat positif untuk meningkatkan semangat belajar siswa. Namun yang menyedihkan, muncul kekhawatiran dari banyak sekolah akan kemampuan siswanya, sehingga mendorong mereka untuk berbuat curang demi nama baik sekolah. Mereka bahkan memberikan jawaban langsung saat siswa mengerjakan soal.
Ironis memang, pemerintah menetapkan nilai minimal untuk meningkatkan kualitas pendidikan sementara banyak sekolah justru menyikapinya dengan jalan pintas. Lalu dimana letak peningkatannya. Dulu aku sangat bangga mendapat nilai ujian tertinggi di sekolah dasar. Tapi aku tidak merasakannya lagi waktu di SLTP. Apalagi di SLTA, siswa yang tidak pernah mendapat nilai lebih dari 7 di setiap semesternya, mampu meraih nilai tertinggi. Hilang sudah semangat belajar. Sirna pula persaingan merebut prestasi. Banyak yang merasa tak perlu rajin belajar toh akhirnya juga sama. Nilainya pasti tidak jauh beda.
Baiklah, mungkin banyak yang bingung dengan tulisan ini. Intinya, aku melihat setelah nilai minimal kelulusan UN di terapkan, banyak sekolah yang mementingkan nama baiknya ketimbang mengajari siswannya menjadi orang yang tangguh, jujur dan berwawasan. Kalau demikian, bagaimana bisa nilai UN menjadi standar pendidikan? Semuanya penuh kecurangan.
Bagaimana menurut anda?
Photo by. Doell 29/04 '10

Kamis, 29 April 2010

Langganan


Hampir setiap pulang sholat jumat, aku selalu mampir di warung bakso langganan. Namanya sih bakso solo, tapi tetep, bikinnya di Bali juga. Hhm, semangkok bakso sapi panas di padu dengan segelas es jeruk, yummy.. Sangat cocok disantap sambil meliri pedagangnya he he
Photo by. Doell, 30/04 '10

Rabu, 28 April 2010

Lapar


Aduh perut udah lapar dari tadi, mi goreng yang kupesan belum juga jadi. Memang, setiap malam kalau sedang kelaparan, kita sering antri disini. Di warung kaki lima di seberang wiros. Aduh, cepetan dong mi-nya!
Photo by. Doell, 28/04 '10

Kaktus


Salah satu view di kebun raya Bali yang aku kunjungi adalah Istana Kaktus. Beraneka ragam koleksi pohon kaktus ada disana lengkap dengan nama dan sejarah kedatangannya ke Indonesia.
Photo by. Anen, 27/04 '10

Kebun Raya Bali IV


Betapa indah kebun itu. Sejauh mata melirik, hamparan hijau selalu mendominasi penglihatan. Oh, belum lagi udaranya yang sejuk segar...
Photo by. Anjar 27/04 '10

Kebun Raya Bali III


Itulah kebersamaan kami. Dari kanan, Nur, Anen, aku, Wardi, Mustam, Jaka, Elly dan yang nampak di belakang adalah Pito. Kita photo bersama disalah satu titik di kebun raya Bali.
Photo by. Anjar, 27/04 '10

Kebun Raya Bali III


Itulah kebersamaan kami. Dari kanan, Nur, Anen, aku, Wardi, Mustam, Jaka, Elly dan yang nampak di belakang adalah Pito. Kita photo bersama disalah satu titik di kebun raya Bali.
Photo by. Anjar, 27/04 '10

Penampakan


Masih dari kebun raya Bali, kali ini sang photograper berhasil membidik sebuah penampakan di salah satu pohon pinus. Setelah dicermati photonya, ternyata.. He he aku yang dijepretnya
Photo by. Anjar, 27/04 '10

Kebun Raya Bali II


Seekor harimau putih mengagetkanku. Enthalah, aku sedang enjoy di taman sebelum tiba-tiba harimau itu muncul dan mengaung di hadapanku. Coba kalau bukan patung, aku pasti sudah dimakannya.
Photo by. Anjar, 27/04 '10

Selasa, 27 April 2010

Kebun Raya Bali


Sengaja kita tutup lebih awal agar bisa menikmati keindahan Kebun Raya Bali di kawasan perbukitan Bedugul. Sungguh kemurnian alam yang disentuh dengan arsitektur terkini menjadikan tempat itu sebagai tujuan banyak wisatawan. Termasuk aku dan teman-teman di taman buaya.
Photo by. Anjar, 27/04 '10

Senin, 26 April 2010

Brimob


Bersama pasukan Brimob dari polres Badung, kami melakukan photo bersama didalam taman buaya Bali saat mereka melakukan patroli rutin.
Photo by. Pito, 17/12 '09

Parangtritis


Aku melepaskan kebebasanku di pantai Parangtritis Jogjakarta. Bersama selurus siswa dan sebagian guru MTs Manbaul Ulum Jatirejo, Damarwulan, Kepung, Kediri, Jawatimur, kita berwisata dalam rangka kelulusan sekolah 2003.
Photo by. Pak Faqih, pertengahan 2003

Berenang


Sebagai siswa SMK Brawijaya I Kota Kediri, kami selalu berenang seminggu sekali untuk mengikuti program ekstra kulikuler sekolah. Nampak Nanak, teman selelas dibelakangku dan beberapa adik kelas didalam kolam renang Pagora, sebuah tempat wisata utama Kota Kediri yang juga satu yayasan dengan tempat kami sekolah.
Photo by. Nur Cahyo, time forgot

Bersama


Masih dari taman buaya Bali, kita semua berkumpul untuk mengabadikan perteman kami waktu itu. Kelak, aku bertemu dengan salah satu dari mereka di Jakarta. Dari kanan, Doell, Dhoni, Anjar, sementara yang duduk adalah Ochi.
Photo by. Self timer LG KG200, Akhir Desember 2009

Penyelamatan


Di sebuah taman buaya di Bali, mereka sedang melakukan operasi penyelamatan terhadap seorang teman yang dimangsa buaya raksasa. He he cuma akting. Hampir setiap hari saat teman-teman dari Jakarta datang, kami selalu bercengkrama gembira. Dari kanan, Anjar, Dhoni, Ochi.
Photo by. Doell, akhir Desember 2009

Gaya


Ini adalah gambaran diriku entah berapa tahun yang lalu. Yang jelas sekarang semua sudah jauh berbeda. Semuanya, perubahan sudah mempengaruhiku dalam segala hal. Di dalam kamar, sehabis mandi.
Photo by. Shilla, 2003

Relasi


Ketika menjadi staf ofice di Erick Wedding Service Kota Kediri Jawatimur, aku selalu sibuk mencetak photo-photo. Mereka bertiga adalah karyawan sebuah studio photo di jl. Joyoboyo yang kemudian menjadi relasi tetap dalam pekerjaanku.
Photo by. Profesioal Photograper, akhir 2006

Staf Ofice II


Masih dari kantorku di Erick Weding Service, jl. Erlangga Kota Kediri. Aku berada di antara baju-baju koleksi yang kami miliki. Disamping melayani segala kebutuhan pernikahan, kami juga melayani blockletter, krans dan aneka rangkaian bunga segar.
Photo by. Elis, akhir 2006

Staf Ofice


Ketika menjadi Staf Ofice di Erick Wedding Service Jl. Erlangga Kota Kediri antara Juni 2006 - Januari 2007. Hampir setiap hari aku duduk sendirian di kantor menunggu pelanggan datang.
Photo by. Elis, akhir 2006

Pintu Gerbang


Inilah Taman Buaya Indonesia Jaya Bali (Indonesia Jaya Reptile & Crocodile Park Bali). Nampak pintu gerbang yang teduh nan asri. Di dalamnya lebih dari sekedar yang terlihat.
Photo by. Doell, 27/04 '10

Lokasi


Indonesia Jaya Reptile & Crocodile Park atau Taman Buaya & Reptil Indonesia Jaya berada di Km. 23 jalan Denpasar - Bedugul. Kalau kita berangkat dari Denpasar dan sekitarnya, kita akan melewati puspem Badung, lalu pasar senggol Kapal dan ketika sudah memasuki Mengwi, kita akan melewati sebuah pasar. Setelah itu ada SPBU Pertamina di pertigaan yang biasa disebut Wiros. Di pertigaan itu kita ambil jalan lurus, sekitar 1km kemudian kita akan melewati pabrik minuman Coca Cola. Nah hanya beberapa ratus meter lagi, kita akan menjumpai Taman Buaya, lokasi tepatnya berada di sebelah kanan jalan.
Di pintu gerbang Taman Buaya kita bisa melihat empat patung raksasa, yang terdiri dari dua patung Ular, satu Komodo dan satu Buaya. Di depan patung juga berdiri sebuah papan nama yang mencantumkan alamat lengkap taman tersebut.
Setelah kita memasuki pintu gerbang tersebut, kita akan menemukan tempat parkir yang luas dengan taman kecil ditengahnya. Yang juga ada tiga patung raksasa seperti didepan pintu gerbang. Disana kita bisa langsung menuju loket untuk menanyakan detilnya.
Saat ini ada sekitar 112 ekor buaya dari tiga jenis yang ada di Indonesia. Termasuk tiga ekor buaya Senyulong atau buaya bermoncong panjang yang keberadaannya sangat langka di Indonesia. Ular disana ada Cobra dan Piton. Keduanya ditaruh dikandang kaca yang berbeda. Sementara untuk Komodo saat ini masih belum bisa didatangkan.
Disamping semua yang telah saya sampaikan tadi, secara keseluruhan kita akan menikmati udara segar alami dengan kesejukan khas Bali, karna lokasinya berada di antara pepohonan yang rindang dan asri.
Bagaimana, kapan mau mencoba?
Photo by. Doell, 27/04 '10

Minggu, 25 April 2010

Magic Show (tamat)


Setelah menyuguhkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Para pemain Magic Show mengucap salam memohon diri. Usai sudah pertunjukan hari itu. Selamat menikmati pertunjukan berikutnya.
Photao by. Doell, 25/04 '10

Magic Show VII


Menggoreng telur diatas kepala. Dilakukan dengan tangan kosong tanpa sendok ataupun sutil. Bayangkan betapa beraninya mereka.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Magic Show VI


Setelah perutnya tidak mempan dirobek. Goloknya pun merambah leher. Dua orang berusaha menggorok lehernya dengan kekuatan penuh. Itulah rawa ronteng.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Magic Show V


Seorang pemain sedang dirobek perutnya oleh pemain lainnya. Sementara yang lain berusaha memegangi agar tidak berontak.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Magic Show IV


Lidahnya pun juga tak luput dari sasaran. Golok tajam yang dipegangnya menyentuh semua anggota tubuh yang berbahaya.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Magic Show III


Selain menggorok leher, pemain juga berusaha mengiris pergelangan tangannya. Tindakan yang berbahaya itu dilakukan hampir setiap hari didepan penonton.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Magic Show II


Golok itu menggorok leher sendiri. Sementara dua orang lainnya berjaga-jaga untuk hal-hal yang lain.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Magic Show


Selain cocrodile wrestling, pertunjukan yang tidak boleh dilewatkan di Taman Buaya adalah Magic Show. Atraksi debus yang dimainkan oleh tiga orang itu diambil dari cerita rakyat yang dilestarikan secara turun temurun oleh masyarakat Banten. Dahulu hampir semua masyarakat di sana memiliki kesaktian dan ilmu kekebalan tubuh yang digjaya sebagai bagian dari upaya menjaga diri. Sekarang beberapa orang yang masih memiliki kemampuan itu mencoba mempertahankanya sebagai seni tradisional yang layak untuk disuguhkan kepada semua orang. Nah, dari yang beberapa itu, kita bisa menyaksikan salah satunya langsung di Magic Show, Taman Buaya Indonesia Jaya Bali.
Ada tiga jurus yang ditampilkan disana. Pertama Jurus Golok, Dimana seseorang dengan mencacah tubuhnya sendiri dengan sebuah golok yang nampak tajam. Dia juga terlihat jelas mengiris-iris lengan, leher bahkan lidahnya.
Jurus kedua adalah Jurus Rawa Ronteng, dimana seseorang yang telah di iris perutnya, bahkan di gorok lehernya oleh seorang algojo, tapi tidak terjadi apa-apa padanya. Dia bahkan bisa bangkit dan memberi lambaian tangan kepada semua penonton.
Jurus yang ketiga adalah Jurus Ketahanan, dimana seseorang mampu menggoreng telur menggunakan tangan kosong. Tidak ada sendok atau sutil untuk membolak bali telur agar matang merata. Yang lebih hebatnya lagi, semua itu dilakukan diatas kepala. Anda layak heran, karna benar-benar ada api dan penggorengan diatas kepala.
Anda mungkin tidak bisa membayangkan seperti apa jurus-jurus diatas dilakukan. Tapi itulah kenyataan yang dilakukan oleh orang-orang jaman dulu, dan bisa anda saksikan sekarang di Taman Buaya.
Bagi anda yang memiliki riwayat jantung lemah, tidak disarankan menonton, tapi jangan kuatir, anda masih bisa berkeliling taman untuk melihat koleksi buaya yang ada disana. Guide-guide disana juga akan membantu anda tahu lebih jauh tentang kehidupan satwa liar seperti buaya. Nah tunggu apalagi, segera hubungi agen perjalanan anda atau langsung klik www.balicroc.blogspot.com untuk mendapatkan informasi lebih jauh. Atau apabila anda masih ingin mempertimbangkan terlebih dahulu, lihat juga gambar-gambar di blog ini sebagai bahan pertimbangan.
Akhirnya saya ucapkan terimakasih dan selamat berselancar di dunia maya. Sampai bertemu di Taman Buaya & Reptil Indonesia Jaya Bali.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Crocodile Wrestling (tamat)


Akhirnya mereka hidup rukun berdampingan sesuai perjanjian. Buaya-buaya tidak akan mengganggu manusia kecuali ada manusia yang mengusiknya. Joko Tingkir pulang dengan sahabatnya bersama seekor buaya yang mengantar sampa desanya.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Crocodile Wrestling XII


Selain pemberani, Joko Tingkir juga peduli dengan orang-orang di desanya. Diapun menyanggupi perjanjian itu dan memasukkan kepalanya ke mulut buaya raja demi kedamaian didesanya. Luar biasa, Joko Tingkir berhasil melakukannya.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Crocodile Wrestling XI


Akhirnya mereka membikin kesepakatan. Untuk hidup damai, Joko Tingkir harus memasukkan kepalanya kemulut buaya raja. Joko Tingkir adalah pemuda pemberani... Awas tipu muslihat!
Photo by. Doell, 25/04 '10

Crocodile Wrestling X


Mereka terlibat perdebatan serius. Buaya raja bersikeras menolak kedatangan Joko Tingkir, sementara dia mulai habis kesabarannya.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Crocodile Wrestling IX


Seeokor buaya raja tidak suka dan marah dengan kedatangan Joko Tingkir. Dia berusaha meyakinkan buaya kalau kedatangannya adalah bukan untuk permusuhan.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Crocodile Wrestling VIII


Setelah melakukan penaklukan, Joko Tingkir dan buaya-buaya itu kini bersahabat. Seekor buaya lalu mengajaknya berkeling untuk diperkenalkan sebagai teman baru. Mereka hidup rukun berdampingan.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Crocodile Wrestling VII


Joko Tingkir akhirnya berhasil menaklukannya. Dengan penuh keberanian dia menaiki punggung buaya yang paling besar sebagai pesan bahwa kawanan buaya harus menyerah dan berjanji tidak mengganggu orang lagi.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Crocodile Wrestling VI


Setelah buaya mampu dikuasai oleh sahabatnya, Joko Tingkir bergegas menghadang buaya yang datang menyerang. Kali ini nampak lebih besar dan buas. Namun Joko Tingkir adalah pemuda pemberani.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Crocodile Wrestling V


Joko Tingkir membantu sahabatnya yang sedang bergulat dengan seekor buaya. Gawat karna ditengan pergulatan mereka, datang seekor buaya yang lebih besar menyerang. Mereka harus waspada.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Crocodile Wrestling IV


Joko Tingkir berhasil menaklukan salah satu buaya. Namun di sekitarnya masih banyak buaya-buaya yang lapar dan siap memangsa kapan saja. Namun Joko Tingkir dan sahabatnya pantang mundur.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Crocodile Werstling III


Joko Tingkir berhasil memancing kawanan buaya ituk untuk berpencar. Itulah setrategi yang jitu. Sementara sahabatnya mengatasi perlawanan buaya lain yang datang dari arah berbeda.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Crocodile Wrestling II


Kawana buaya yang terkenal buas itu keluar sarangnya, menyerang Joko Tingkir dan sahabatnya yang baru saja beranjak dari tempat semedi.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Crocodile Wrestling I


Joko Tingkir, melakukan persiapan dengan bersemedi di sekitar sarang buaya yang terkenal angker. Dibantu oleh sahabatnya, Joko Thole.
Photo by. Doell, 25/04 '10

Sabtu, 24 April 2010

Tepi Pantai


Di sepanjang jalanan Probolinggo, kulewati tepian pantai nan indah. Menghilangkan rasa capek yang mulai menyerang bokongku.
Photo by. Take from movie, 24/02 '10

Paiton II


Aku pertamakali mendengar nama pembangkit ini sejak sebelum tahun 2000 ketika ada sebuah kecelakaan maut lalu lintas di sana. Dan akhirnya aku bisa juga melihat langsung Paiton.
Photo by. Take from movie, 24/02 '10

Paiton


Dalam perjalanan darat ketika pulang dari Bali, aku melewati sebuah pembangkit listrik tenaga uap Paiton di Kec. Paiton, Probolinggo, Jawa Timur.
Photo by. Take fro movie, 24/04 '10

Air Panas


Beginilah kebersamaan karyawan taman buaya. Suatu sore kami menuju pemandian air panas di perbukitan Penebel, Tabanan, Bali. Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan, rilekslah sedikit dengan mandi air panas langsung dari alam.
Photo by. Take from movie, 16/04 '10

Jumat, 23 April 2010

Tipat Bali


Hhmm.. Yummy, saat lapar sebelum jam makan tiba, aku selalu membeli tipat bali. Disamping harga dan rasa yang cocok, bahannya juga 100 dari tumbuhan. So dijamin mak nyusss..
Photo by. Doell, 24/04 '10

Delay


Satu sore di ruang tunggu bandara international Soekarno-Hatta. Aku sedang menunggu pesawatku yang ternyata Delay sekitar 45 menit, buset dah!!
Photo by. My self, 09/01 '09

Bendungan Siaman


Hamparan hijau membentuk lereng, siapa sangka kalau itu adalah tepi Bendungan Siman.
Photo by. Fai 01/01 '09